Kegiatan Teater Nazif Basir di Tahun 55 s/d 66 (Part 2)

SEJARAH TEATER KOTA PADANG

 

1. Kehidupan teater di Sumbar

Sebelum melanjutkan sekolah dari SMP Bukittinggi ke SMA di Yogyakarta tahun 1951, maka dikampung saya Balingka kecamatan IV Koto Kabupaten Agam sudah menjadi tradisi setiap hari Raya Idul fitri mengadakan pertunjukan sandiwara selama 3 malam berturut-turut yang ketika itu disebut sebagai pertunjukan Tonil. Dengan mengosongkan sekolah dan menyusun bangku-bangku rata sebagai pentas, kemudian dilengkapi dengan layar untuk membuka tutup panggung, para penonton berjejer duduk dikursi dalam ruang-ruang kelas yang lain yang telah dibuka dinding-dinding penyekatnya. Pertunjukan tersebut biasa dipimpin oleh kakak beradik Rasyidin Rasyid dan Anis Rasyid yang pernah menempuh pendidikan jaman Jepang di INS Kayu Tanam dibawah pimpinan Engku Syafei. Pertunjukan Tonil di Balingka itu dilakukan dengan mempergunakan script yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Saya sendiri ketika itu juga sudah ikut dibawa main untuk peran peran pembantu. Cerita-cerita sandiwara yang pernah saya ingat dimainkan pada waktu itu berjudul antara lain: Pelarian dari Nusa Kambangan – Dokter Syamsi – Puputan Bali – Penjaga Kubur – Tuanku Imam Bonjol, dll.

Saya rasa pertunjukan tonil pada jaman itu oleh anak-anak INS dicontoh dari pertunjukan-pertunjukan yang sama yang pernah dilakukan oleh Kelompok Ratu Asia dibawah pimpinan Syamsudin Syafei yang konon pernah juga mengadakan pertunjukan keliling di Sumatera Barat pada tahun-tahun akhir pendudukan Jepang dan pada tahun-tahun Agresi Pertama dan Kedua di Sumatra Barat.

2. Alasan pendirian kelompok Teater Kota Padang

Bagi saya sendiri pengalaman tonil dikampung ini yang kemudian mendorong saya  untuk memilih jurusan Seni Drama dan Film di Jogyakarta. Cuma sayang walaupun bernama Akademi Seni Drama dan Film, maka pelajaran utama ketika itu lebih terpusat pada Drama, sedangkan Film atau Cinemagrafi tidak pernah tersentuh karena ketiadaan fasilitas dan dosen- dosen yang bisa mengajar untuk ilmu tersebut  belum ada.

 

3. Proses pendirian kelompok Teater Kota Padang dan anggota-anggotanya yang pernah terlibat produksi hingga garapan terakhir pada tahun 1967

Saya diterima masuk Asdrafi  setelah tamat SMA Budaya Jogya tahun 1954. Di Asdrafi ini ada beberapa catatan tentang kegiatan Teater yang saya lakukan di Jogya dan dapat dilihat di Blog saya. Pada tahun ketiga (1956) saya pulang  libur ke Bukit Tinggi dan karena kawan-kawan saya dan guru-guru di Gajah Tongga Bukittinggi banyak yang mengenal saya yang sedang kuliah drama di Asdrafi maka dalam rangka ulang  tahun Gerakan Pemuda Sosialis (GPS), saya diminta mereka untuk menyutradarai 2 pagelaran Drama yang akan dipertunjukkan di Gedung Nasional Bukittinggi. Pertama Naskah “Awal dan Mira” dimana saya sendiri sebagai Sutradara merangkap memegang peran sebagai “Awal” dalam karya Utuy Tatang Sontani. Kedua menyutradarai Drama Minang Sabai Nan Aluih berdasar naskan Tulis St. Sati. Pemain-pemain yang saya sutradarai ketika itu: antara lain  Ratna Mahyar-Syafri Segeh dan Basri Segeh, dll.

Berturut-turut tiap tahun sesudah pagelaran pertama itu sampai runtuhnya Gedung Pancasila diterjang ombak, Teater Kota Padang menampilkan pertunjukan-pertunjukan drama dengan mengangkat naskah-naskah drama dunia terkenal, seperti: “Tanda Silang” oleh Eugene Oneil dan “Hanya Satu Kali” karya John Galworty. Pada acara Dies Natalis Unand tahun 1963. Teater Kota Padang juga pernah menampilkan Pagelaran Naskah: “Penghuni-penghuni Gua” yang penulisnya juga dari luar yang tidak ingat lagi namanya. Yang memegang peranan ketika itu selain saya juga diperani oleh Leon Agusta. Sedangkan Dekorasi ditangani oleh pelukis  Arby Samah. Latihan-latihan naskah ini juga disaksikan oleh budayawan Umar Qayam dari Jogja. Naskah “The Proposal” karya Anton Chekov saya adaptir kedalam “Kumidi Bagalau” dengan judul “Udin Pamalu” yang dipertunjukan dengan pelaku-pelaku Burhan Bur dan Lucian Idris serta saya jadi Udin Pamalu diadakan dibioskop Raya Padang.

 

4. Gejolak kehidupan sosial dan politik tahun 1960an yang mempengaruhi produktifitas saya dalam berkarya.

Di harian Res Publika kegiatan kebudayaan berada dibawah pimpinan Abdul Muis S. Bakry yang ketika itu memakai nama samaran Ananda Madah Mangau. Res Publika beraliran Nasionalis dibawah Pimpinan Kepala Japenprop Sumbar Bapak Daranin seorang tokoh PNI, karena itu koran Res Publika sering terlibat polemik dengan koran Panarangan terutama mengenai paham Humanisme Universal yang kami anut dengan paham Seni untuk rakyat yang sedang getol-getolnya dipaksakan oleh kelompok Komunis untuk dipakai oleh semua  seniman di Indonesia . Karena saya selain dikenal sebagai wartawan tapi juga dikenal sebagai Seniman, maka kepada saya diserahkan untuk membentuk kelompok Teater yang ketika itu kami berinama “Teater Kota Padang”. Abdul Muis S. Bakry yang  pada Jaman Gubernur Sumbar Dt Rangkayo Basa ikut duduk di DPRD mempunyai banyak relasi dan koneksi dikalangan pejabat di Padang. Pada waktu itu diruangan sastra dan Budaya Res Publika telah banyak  tampil seniman-seniman dan sastrawan-sastrawan muda dengan menulis, puisi-puisi dan, eseis-eseis budaya yang yang bertendes Anti Komunis seperti Mursal Esten – MS.Sukmajata – Chairul Harun, Rusli Marzuki Saria, Leon Agusta, dll. Mereka itu semua praktis menjadi pendukung pertama lahirnya “Teater Kota Padang”. Ketika Palang Merah Indonesia bulan Oktober tahun 61 akan mengadakan acara di Gedung Pancasila maka melalui Abdul Muis S Bakry mereka meminta Teater Kota Padang dapat menampilkan pertunjukan Drama. Kami memilih naskah “Penggali Intan” karya Kirjomulyo yang di Jogya sendiri sebelumnya sukses dipertunjukkan oleh kelompok teater W.S. Renda dengan menampilkan pelaku-pelaku: Kusno Sujarwadi, Iman Sutrisno dan M.Nizar. Nah Teater kota Padang  dengan pegelaran pertama ini, menampilkan pemain-pemain teater Mira Darjis, dan Syafril Zein dan pelaku wanita Nurjani Musa. Saya sendiri  pegang peran merangkap sutradara. Dekorasi dibuat oleh pelukis Mahyuddin. Ini adalah pagelaran pertama Teater Modern di kota Padang dan mungkin juga yang pertama mengangkat naskah-naskah. Drama yang ditulis oleh sasterawan-sasterawan yang terkenal jaman itu.

Sesuatu yang sangat berkesan dalam penciptaan karya drama saya ialah membuuat nakah “Bung Besar” yang dipagelarkan  dalam rangka memperingati HUT PWI bulan Februari 1966 di Aula Don Bosco Padang. Judul naskah ini saya ketahui kemudian juga telah dijadikan naskah drama sendiri oleh Misbach Yusa Biran di Jakarta. Naskahnya berbeda dengan yang saya buat, tetapi tema hampir sama yaitu parodi tentang kekuasaan Bung Karno. Drama saya ini para pelakunya didukung hampir semua oleh para seniman dan budayawan Padang (lihat Blog) dan dipertunjukkan ketika pengikut-pengikut Sukarno dan militer masih berkuasa. Saya ingat betul ketika itu kawan baik saya  Ridwan Isa fotografer terkenal di Padang, menyuruh saya melapisi perut dan dada dengan lempengan besi. Kuatir sedang main nanti ada tentara yang menembak saya dari jauh.

 

5. Kelompok seni yang lain yang turut menggelarkan karya teater pada waktu itu.

Setahu saya selain pertunjukan-pertunjukkan Randai yang juga  sangat populer serta sering diadakan dihalaman-halaman rumah  dikampung-kampung, maka di Bukittinggi juga sudah terkenal nama-nama seperti Bapak Rasyid Manggis dan DT. Nurdin Ya’kub yang pernah menyutradarai pertunjukan- pertunjukan Sandiwara, seperti Sandiwara Sabai Nan Aluih, dll yang pernah dipertunjukkan di Gedung Nasional Bukittinggi. Kemudian ada Kelompok SEMI (SENIMAN Muda Indonesia) dibawah pimpinan Alm. Zetka dan AA Navis pernah mempegelarkan Drama Modern “Bunga Rumah Makan” karya Utuy Tatang Sontani. Semua itu terjadi sebelum saya meneruskan sekolah ke Jogyakarta.

Kabarnya di Padang sesudah saya pindah juga telah berkembang kelompok-kelompok teater seperti Kelompok Teater Bumi yang dipimpin oleh Wisran Hadi dan ada kelompok-kelompok lain yang saya tidak ingat namanya.

 

6. Terbentuknya karya-karya Nasionalis.

Saya kembali dari Jakarta ke kota Padang setelah pulih masa PRRI tahun 1961 dan langsung bekerja di Harian Res Publika sebagai Redaktur. Ketika itu kelompok seniman  padang banyak tergabung di grup Kuntum Mekar yang dikelola oleh Harian Panarangan  dibawah Pimpinan Alm. Rasyidin Bey yang ternyata kemudian adalah seorang  aktivis komunis. Banyak kegiatan seniman termasuk juga kegiatan teater dan deklamasi sajak, waktu itu didominasi grup-grup Harian Panarangan ini.

 

7. Bapak Sri Martono pendiri ASDRAFI.

Sri Murtono adalah Direktor Asdrafi yang didirikan oleh Institut Kebudayaan Indonesia (IKI) Jogyakarta dibawah pimpinan Prof. Purbodiningrat. Jadi yang aktif mengajar ketika itu adalah Bapak Sri Murtono yang juga terkenal sebagai penulis naskah-naskah drama di Jogyakarta. Pada tahun-tahun pertama Asdrafi di Jogja itu, saya adalah termasuk mahasiswa senior dan yang kedua berasal dari Sumatera setelah S.A.Karim yang berasal dari Aceh. Lebih dahulu dari Kusno Sujarwadi, Hendra Cipta dan Iman Sutrisno. Karena itu saya selalu diberi peran-peran utama dalam naskah-naskah Sri Murtono yang dipagelarkan dalam berbagai kegiatan oleh Asdrafi. WS Rendra juga pernah ikut sebentar di Asdrafi,begitu juga Steve Lim yang kemudian terkenal dengan nama Teguh Karya juga pernah ikut sebentar di Asdrafi, tetapi kemudian pindah ke Jakarta karena telah dibukanya ATNI ( Akademi Teater  Nasional Indonesia) di Jakarta.

 

Inilah sekelumit yang masih saya ingat mengenai perjalanan dan pengalaman teater saya sampai kemudian tahun 1971 pindah ke Jakarta. Artikel ini merupakan jawaban dari pertanyaan saudara Saaduddin, pengajar Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Padang Panjang yang akan digunakan untuk penelitian.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: