BISAKAH PANTAI AIR MANIS DIBANGUN JADI “MALIN KUNDANG BEACH”?

Dalam usia senja sekarang ini saya sering berkunjung bersama dengan cucu-cucu saya ke tempat rekreasi dan objek-objek wisata diberbagai kota didunia. Di Taiwan bersama puluhan wisatawan-wisatawan asing kami pernah dibawa melewati jalan-jalan berliku berkunjung kesuatu puncak bukit disebuah desa bernama Hua Lien. Disana kami hanya dibawa untuk menyaksikan satu patung batu perempuan yang sedang memangku anak melihat jauh kelaut.

Saya bertanya kepada Tour Guide yang memandu perjalanan kami, apa makna dan cerita dari patung tersebut. Ia mengatakan bahwa patung itu dulunya adalah seorang isteri nelayan dikampung itu yang sangat setia kepada suaminya. Karena suaminya seorang nelayan tidak pulang-pulang dari laut mungkin karena telah tenggelam, maka si isteri dengan memangku anaknya bertahun-tahun setia menunggu terus dipuncak bukit itu sampai menjadi batu.

package_1318_AsiaBookIn.com_Taiwan_kaosiong_Alishan 2

Taroko Hualien Foto sumber dari Google

BATU MALIN KUNDANG LEBIH BERMAKNA

Peristiwa ini mengingatkan saya kepada batu Malin Kundang di pantai Air Manis Padang. Telah bertahun-tahun saya bersama grup Sangrina Bunda mengadakan pertunjukan dihampir 45 negara di lima benua. Lebih dari tiga perempat kota yang  pernah kami  kunjungi itu, selain dari njanyian dan tarian etnik Nusantara kami juga selalu menampilkan kisah Malin Kundang dalam bentuk Drama Musikal (Opera). Walaupun naskah itu kami bawakan dalam bahasa Indonesia, tetapi karena publikasi berbahasa setempat yang dibagikan kepada penonton sebelum acara dimulai, membuat para penonton dimana saja cukup mengerti dan sering juga terharu menyaksikan peristiwa pendurhakaan anak yang sangat menyakitkan yang ditampilkan dalam opera tersebut. Legenda Malin Kundang ini dibanding Patung Taiwan ternyata mengandung filosofi edukasi yang lebih bermakna bagi pendidikan moral anak-anak. Agaknya dengan pertunjukan-pertunjukan Drama Malin Kundang yang kami lakukan itu, hampir diseluruh dunia orang sudah mengetahui kisah tersebut dan mungkin juga sebagian dari mereka pernah berkunjung ke Sumatera Barat demi untuk menyaksikan anak durhaka yang dikutuk Tuhan menjadi Batu itu.

TIDAK TERTATA SECARA PROFESIONAL

Tapi di Pantai Air Manis yang terletak lebih dari 13 KM dari Kota Padang tidak ada sarana jalan yang mulus dapat ditempuh sesuai dengan kenyamanan yang diharapkan oleh wisatawan Manca Negara. Setelah sampai ditempat itupun semua masih nampak semrawut tanpa penataan yang bisa memberikan kenyamanan pelayanan oleh orang-orang sekitar tempat itu kepada para pengunjung. Cucu-cucu saya yang pernah dibawa oleh bapak ibunya ketempat tersebut oleh karena adanya unsur-unsur pendidikan moral yang sangat berguna diajarkan kepada anak-anak agar tidak pernah mendurhaka kepada orang tuanya, mereka juga tidak tertarik jika yang mereka saksikan hanya patung  batu yang sudah hampir habis terkikis oleh air laut dan hampir terbenam oleh pasir tanpa adanya sarana-sarana lain.

Saya memperbandingkan dengan patung ibu memangku anak di Taiwan. Alangkah jauh dan berliku-likunya jalan bus yang kami tumpangi untuk dapat menuju lokasi itu. Walaupun kemudian yang kami saksikan hanyalah sebuah patung batu, tetapi lingkungan sekitar tempat itu tertata dengan rapi. Tersedia tempat parkir yang sangat luas bisa menampung puluhan bus dan mobil-mobil yang dibawa pengunjung pribadi. Disekitarnya juga terdapat kios-kios yang menjual barang-barang souvenir khas Taiwan  dan bar-bar yang menyediakan berbagai macam makan dan minuman. Lalu juga tersedia toilet-toilet umum yang bersih untuk orang yang ingin membuang hajat. Tempat-tempat itu juga dijaga oleh gadis-gadis Taiwan yang manis-manis dengan memakai kostum-kostum adat mereka. Setiap gadis-gadis ini mampu menjelaskan kepada para wisatawan yang datang tentang adat istiadat kampung itu dan cerita mengenai isteri nelayan yang telah membatu itu.

Malin Kundang 2

Foto sumber dari Youtube – http://www.indonesiakaya.com

“LEGO LAND” di JOHOR BARU

Beberapa bulan yang lalu saya juga membawa cucu-cucu saya ke Johor Baru di Malaysia. Disana ada objek rekreasi dan wisata yang diberi nama “Lego Land”. Berada disuatu lokasi yang sangat luas diseberang kota Singapura. Tempat ini walau hanya memblow-up permainan tumpukan lego anak-anak berwarna warni, ternyata juga sangat banyak didatangi oleh para pengunjung yang membawa keluarga dan anak-anaknya datang dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia.

20140626_160147

Bersama keluarga beserta cucu-cucu berlibur ke LEGOLAND Malaysia

KAMPUNG GAJAH DAN DE RANCH DI BANDUNG

Tidak usah jauh jauh. Baru-baru ini saya juga membawa cucu-cucu saya ke Bandung. Alangkah banyaknya tempat-tempat rekreasi bagi anak-anak dan wisatawan yang terdapat dikota ini yang dikelola dengan sangat baik dan profesional. Ada kampung Gajah yang menawarkan berbagai  sarana rekreasi bagi anak-anak dan orang tua. Ada “De Ranch” bekas tempat pemeliharaan kuda, yang juga dikembangkan menjadi objek rekreasi bagi anak-anak. Mereka bisa menyewa dan belajar naik kuda dengan dipandu oleh petugas-petugasnya. Mereka bisa belajar menjadi  kusir membawa kereta-kereta kuda, mereka bisa belajar memanah, belajar memerah susu sapi, kambing dan lain lain sebagainya. Di Bandung juga terdapat apa yang disebut “Floating Market” atau Pasar terapung. Sebuah danau kecil buatan dekat Lembang telah dibangun dan disekitar pinggir-pinggir danaunya dipenuhi oleh deretan-deretan perahu yang sama dengan warna-warni yang menawarkan berbagai jenis makanan kepada pengunjung. Salah satu sisi danau itu juga dijadikan terminal penyewaan bagi anak anak yang ingin bermain sepeda air, berkano dan  bersampan. Sekitar tempat itu juga disediakan tempat parkir Bus-bus dan mobil-mobil pribadi yang selalu penuh di jajari kendaraan pada musim liburan.

IMG_20150221_184712

Screenshot_2015-02-21-18-56-10 Di De Ranch, cucu-cucu ikut belajar menunggang kuda dan memanah

20150221_171535

20150221_161254 Atas: Di Floating Market cucu-cucu sedang memberikan makan ikan. Bawah: Di Floating Market kita dapat menyicipikan makanan khas di Bandung yang dijual diperahu-perahu disekitar danau buatan, para pengunjung juga dapat menaiki perahu dan sampan yang tersedia.

LALU SAYAPUN BERMIMPI

Semua yang saya saksikan bersama cucu-cucu saya inilah yang kemudian mendorong saya untuk bermimpi. Kapankah kota Padang punya tempat-tempat rekreasi dan objek wisata yang dikelola secara profesional. Bukan  kekayaan alam yang disuguhkan begitu saya tanpa kreasi dan inovasi yang visioner. Objek wisata Batu Malin Kundang yang sudah sangat terkenl diberbagai belahan dunia itu, tidak adakah seorang investor awak yang bersedia untuk membangunnya menjadi suatu objek wisata yang bernilai edukatif dan rekreatif sehingga menyenangkan orang datang untuk berkunjung walau harus membayar tiket untuk masuk dan memarkir mobilnya. Karena Batu Malin Kundang lebih bermakna untuk pendidikan moral anak anak dibanding patung batu perempuan di bukit Hua Lien.

Kota Padang selain dari pantainya yang juga tidak pernah tergarap secara profesional, walaupun sebenarnya tidak kalah menarik dari pantai Casablanca di Maroko, maka objek Batu Malin Kundang yang sudah mendunia ini pun tidak pernah terjamah tangan tangan pengusaha untuk mengembangkannya menjadi tempat rekreasi yang berkelas. Tempat itu harus menjadi objek rekreasi yang dapat menghibur pengunjung dan menyenangkan hati anak-anak. Di dalamnya perlu dilengkapi dengan berbagai sarana permainan anak-anak, disamping relief cerita Malin Kundang yang lengkap di dinding yang abadi dan kapanpun dapat dilihat dan dimengerti oleh yang menyaksikan. Ada bangunan-bangunan tempat pemutaran film-film animasi Malin Kundang yang sewaktu waktu dapat ditonton oleh pengunjung. Juga disediakan sebuah amphi teater kecil (Medan nan bapaneh) dimana para seniman setempat sewaktu-waktu dapat mempersembahkan pertunjukan-pertunjukan kepada penonton yang mengangkat cerita Malin Kundang dalam berbagai versi. Berbentuk Tarian maupun drama-drama pendek. Akan lebih baik lagi jika kepada pengunjung dapat dijual buku-buku kecil cerita bergambar Malin Kundang yang ditulis dalam berbagai bahasa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Bahasa Belanda, Tionghoa, Jepang dan lain-lain sebagainya.

Peta Malin Kundang Beach

“MALIN KUNDANG BEACH”

Mimpi inilah yang kemudian mendorong saya untuk membuat konsep kasar yang diberi judul “Malin Kundang Beach” sebagai mana terlampir bersama tulisan ini. Gambar ini lahir dari angan-angan saya setelah menyaksikan berbagai objek rekreasi anak-anak yang terdapat diberbagai belahan dunia. Anak-anak, tetaplah anak anak. Disamping pendidikan mereka juga perlu menyenangkan hatinya dengan sarana-sarana permainan. Di Padang, kemanakah anak-anak ini harus dibawa? Banyak diantara mereka yang berada dikota Padang dan kota-kota lainnya di Sumatera Barat yang pernah menyaksikan berbagai objek rekreasi di kota-kota di Jawa bahkan juga diluar negeri. Dikampungnya sendiri, mereka akan dibawa kemana? Yang perlu siapakah investor yang bersedia mewujudkan mimpi ini menjadi kenyataan…..?! Dan bagaimana cara penyelesaian tanah yang harus tergusur karena pembangunan projek ini…? Sayangnya mimpi saya tidak pernah mendetil sampai kesana….! (Nazif Basir)***

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: