Naskah Drama Musikal Malin Kundang Dalam 3 Babak

Karya: Nazif Basir

Dramatis Personae

 (Episode 1)

1. MALIN KUNDANG (Kecil) 12-13 tahun

2. IBU MALIN KUNDANG

3. DATUK NAKODO

4-5. ANAK BERMAIN 1-2

6-7-8. PENJUAL KAIN 1-2-3

9.PENJUAL LEPAT

10-11-12. PEMBELI KAIN 1-2-3

13-14. ORANG PASAR 1-2

15-16. POLISI 1-2

Sejumlah anak-anak penyanyi koor merangkap pemain rame-rame

 

(Episode 2)

  1. RAJA
  2. RATU
  3. PUTRI RAJA
  4. JURU BICARA RAJA
  5. MALIN KUNDANG (Besar) 27-28 tahun
  6. ANAK RAJA BHUTAN
  7. ANAK RAJA BIRMA
  8. ANAK RAJA HINDUSTAN

9-10. BUKAN ANAK RAJA 1-2

11-12-13. PARA PUNGGAWA 1-2

 

(Episode 3)

1-2-3. ANAK BERMAIN 1-2-3

  1. PEMUDA PENJILAT
  2. WANITA PENYAMPAI BERITA
  3. WAK HAJI

7-8-9. TIGA AWAK KAPAL

  1. MALIN KUNDANG
  2. PEREMPUAN-PEREMPUAN KAMPUNG PENARI & PENYANYI
  3. PUTRI RAJA ISTERI MALIN KUNDANG
  4. IBU MALIN KUNDANG

Sejumlah laki perempuan sebagai orang kampung dan para penyanyi koor

 

EPISODE I

Backdrop menggambarkan pemandangan sebuah ruang terbuka dipinggir laut yang sering dipergunakan oleh para nelayan dan penduduk disekitarnya sebagai tempat “pasar kaget” setiap hari minggu.

 

Musik Pembuka

Untuk memusatkan perhatian penonton, musik dan sound effect berupa petir dan hempasan ombak serta jeritan manusia yang dahsyat untuk akhir cerita dicomot sedikit sebagai musik pembuka dan sound effect ini langsung pula disambut oleh musik pembuka yang full orkestra. Tingkah bertingkah antara alat-alat musik modern dengan alat-alat musik tradisional minang.

 

Adegan 1:

Ketika layar dibuka, diatas pentas telah berjejer sejumlah anak-anak yang akan membawakan nyanyian koor pengantar cerita dengan gerakan-gerakan sederhana untuk meng-aksentuir nyanyian.

 

LAGU PEMBUKAAN

Inilah kisah cerita lama

Warisan budaya leluhur kita

Tentang seorang anak durhaka

Dikutuk Tuhan menjadi arca

 

Konon terjadi di Pantai Padang

Menjadi saksi sampai sekarang

Pecahan kapal disela karang

Telungkup batu si Malin Kundang

 

Malin Kundang – si Malin Kundang

Anak durhaka kata orang

 

Adegan 2:

Akhir nyanyian koor ini diteruskan oleh teriakan-teriakan bersautan dari anak-anak yang berlarian dalam persiapan permainan dolanan “Bangau dan buaya”. Mereka berteriak-teriak:

Anak Pertama

Ayo kita main, bangau dan buaya…!

Rame-rame

Ayo mari..mari… Siapa yang jadi buaya?

Anak Pertama

Ayo Sut… ayo sut….

Maka berkumpul kembali membentuk lingkaran-lingkaran dan masing-masing mengancungkan telapak tangan kanan dengan posisi tertungkap. Dan serentak bersama-sama pula mereka bernyanyi:

Om pim pa – tarararam pampa

Maka keluarlah beberapa orang yang telapaknya terlentang. Kemudian sisanya meneruskan lagi cara yang sama:

Om pim pa – tarararam pampa

Semua berteriak lagi kesenangan karena telah terpilih satu orang yang akan jadi buaya. Kemudian semuanya berdiri membentuk setengah lingkaran menghadap penonton dan salah seorang yang jadi buaya tidur menungkup menghadap mereka.

Musik

Cak cak Mimin

Belalang di atas batu

Mari kita bermain

Burung bangau berkaki Satu

Selesai lagu itu serentak semua menaikkan kakinya satu, seperti burung bangau. Kemudian lagu dilanjutkan:

Cur cur kucur

Melompat bersama-sama

Siapa yang jatuh tersungkur

Dimakan oleh buaya

Semua yang berkaki satu itu dengan mengangkat kedua tangan ke atas melompat-lompat maju dengan kaki satu, salah seorang diantaranya terjatuh dan langsung dikejar oleh anak yang jadi buaya dengan menggumulinya. Yang lain-lain berteriak kesenengan.

Si Udin kalah.. si Udin kalah

Sudah dimakan oleh buaya

Keributan itu tiba-tiba menjadi hening, ketika mereka melihat Malin Kundang kecil yang berbaju compang camping masuk dan ikut-ikut berteriak gembira melihat permainan itu.

Anak Pertama

Mengapa kamu ikut tertawa-tawa?

Siapa yang mengajak kamu serta!

Malin Kundang

Tidak ada yang mengajak saya

Tapi saya ingin ikut serta

Anak Kedua

Tengok bajumu yang compang camping

Ikut kami takkan sebanding

Malin Kundang

Saya ingin ikut bermain

Kenapa baju jadi pembanding

Anak Pertama

Suruhlah ibumu membeli baju

Sudahlah lusuh badan berbau

Takkan sepadan kau dan aku

Ibumu hanya tukang cari kayu

Semua anak-anak yang lain ikut mengejek dan tertawa sambil berteriak-teriak:

Rame-rame

Malin Kundang – Malin Kundang

Anak yang tidak tahu diuntung

(ketawa, rame-rame)

Malin Kundang

Ia sangat malu dan sedih. Dengan tertatih-tatih ia meninggalkan tempat itu masih diikuti oleh ketawa anak-anak yang mencemoohkannya. Dan sebagian dari anak-anak itu ada yang ikut keluar dan sebagian lainnya tetap tinggal melihat masuknya beberapa orang pedagang yang mulai menggelar dagangan mereka ditempat itu.

 

Adegan 3

Fokus pada 3 orang pedagang kain yang sedang menawarkan dagangannya dalam gerak tari dengan melempar-lempar aneka warna kain dengan indahnya ke atas, sambil menggoda orang-orang yang lewat.

Pedagang Kain

Ayo Buk…! Ayo Uni…! Ayo Diak…!

Mari ramai-ramai membeli kain…!

 

Ucapan ini mereka teruskan dalam lagu:

Belilah kain cita berbunga

Dengan aneka pilihan warna

Merah biru kuning dan jingga

Sungguh indah dipandanga mata

 

Kalau dijahit jadi kenaya

Membalut tubuh si Anak dara

Banyak orang kan terpesona

Ehm… bujang-bujang tentu tergoda

 

Ayo belilah kain ku ini

Barang impor warnanya asli

Asal jangan sering dicuci

Takkan luntur sepanjang hari

Sekelumit musik instrumentalia untuk mengiringi para pedagang kain yang sedang mencobakan berbagai gerakan bagai peragawan yang sedang memamerkan kain-kain itu yang mereka lilitkan ketubuhnya. Habis bergaya itu musik kembali kepada bait pertama lagu sampai bait kedua. Selesai lagu orang-orang berebutan membeli kain.

Pembeli 1

Saya yang ini, potong 2 meter pak

Pembeli 2

(Merebut kain yang sedang dipegang orang lain)

Saya yang ini, potong 1 meter pak. Untuk rok pomble saya

Pembeli 3

Apa-apaan ini…? Saya telah memegang lebih dahulu…!

(Mereka bertarik-tarikan kain itu – sehingga robek dan pembeli 3 langsung lari)

Pedagang Kain 1

Hei..hei.. apa-apaan ini.. Jangan lari…!

Kain saya robek… siapa yang ganti…?

 

Adegan 4

Keributan itu tertutup dengan masuknya seorang anak perempuan yang menjunjung nampan menjual lepat sambil bernyanyi. Diiringkan oleh beberapa orang anak-anak dibelakangnya dalam gerakan yang sama.

Penjual lepat

Saya ini si penjual lepat

Lepat pisang dan lepat ubi

Kalau dimakan rasanya lezat

Perut kenyang pengganti nasi

Ayo mari-belilah lepat

Uangnya untuk ibu berobat

 

Adegan 5

Habis bernyanyi itu ia menggelar dagangannya disudut lapangan. Malin Kundang Nampak mengendap-endap masuk pasar. Ia nampaknya sangat letih dan kelaparan. Matanya liar memandang kesana kemari. Namun tak seorangpun yang mengacuhkannya. Dengan langkah cepat tiba-tiba saja ia mencomot sebuah lepat membawanya lari ketengah pasar. Perempuan penjual lepat yang kaget, berteriak histeris:

Penjual lepat

Maling… maliiiiing…

Ada yang mencuri lepatku…!

Tolong… Toloooooong!

Maka pasar yang semula tenang itu menjadi kelibut. Mengikuti telunjuk penjual lepat mereka berlarian mengejar Malin Kundang. Si Malin Kundang yang belum sempat memakan lepat itu, melemparkan lepatnya kemudian mencoba meloloskan diri dari kepungan orang banyak. Tetapi kemanapun ia lari, orang-orang mengikutinya dan akhirnya berhasil menangkapnya.

Orang Pasar 1

Ini dia malingnya sudah kutangkap…!

Orang Pasar 2

Mana dia, seret kesini – Boleh kita hajar rame-rame

Orang-orang Pasar lainnya

Ya… Pukul saja maling itu- Hajar dia biar modar

Malin Kundang

Ampuuuun… Ampun Pak… Ampun Mamak

Orang Pasar 1

Apa ampun.. Kecil-kecil jadi pencuri-Kalau besar jadi perampok kamu

Malin Kundang

Ampun Pak…Ampun Mamak

Orang-orang Pasar lainnya

Jangan kasih ampun-ayo kita pukul rame-rame

 

Adegan 6

Semuanya bagaikan kesetanan mengeroyok Malin Kundang. Dan ditengah keributan masuklah 2 orang Polisi. Mereka masuk dengan langkah dan gaya karikatural sambil membawa pentungan karet. Mereka berkata dalam nyanyian:

Polisi 1-2

Ada apa ini ribut-ribut

Didalam pasar bikin kelibut

Cobalah jawab cobalah sebut

Supaya kami bisa mengusut

Orang-orang Pasar

(Dalam nyanyian koor)

Pak Polisi cobalah lihat

Anak orang mencuri lepat

Kecil-kecil sudah bejat

Kalau besar jadi penjahat

 

Polisi 1

(Memegang leher Malin Kundang)

Malin Kundang

(Menjawab dengan gagap)

A…a….ampun Pak Polisi… A…a…ampuuuun

S…s…aya… tidak mencuri….ssssaya….

 

Tapi belum sempat Malin Kundang menyelesaikan perkataannya orang-orang pasar yang mengepungnya kembali menjadi beringas. Mereka mencoba kembali merebut Malin Kundang dari polisi-polisi itu dan mengeroyoknya. Sehingga kedua polisi itu kewalahan untuk memberikan pengamanannya.

Orang-orang Pasar

Jangan berbohong kamu setan

Sudah jelas tertangkap tangan

Ayo tidak perlu tanya-tanya

Hajar saja dia biar jera

 

Adegan 7

Tanpa menghiraukan adanya polisi, orang-orang pasar itu kembali mengggebuki Malin Kundang dan polisi-polisi itu sulit untuk melerainya. Ditengah tangisan rintihan Malin Kundang yang minta ampun, maka tiba-tiba masuklah Ibu Malin Kundang yang sangat terkejut melihat anaknya dipukuli. Tanpa menghiraukan siapa-siapa ia menyeruak masuk ketengah orang ramai itu dan dengan penuh kasih sayang memeluk anaknya. Ia meratap dalam nyanyian dengan nada tinggi.

 

Ibu Malin Kundang

Ya Allah Tuhan Ya Rabbi

Apa gerakan yang terjadi

Mengapa anakku dipukuli

Apa salahnya sampai begini

Orang Pasar 2

Anak Ibu mencuri… Anak ibu mencuri

Karena itu kami gebuki

Ibu Malin Kundang

Apa yang dicurinya,,,?

Orang-orang pasar

Lepat.. Lepat Pisang

Dagangan orang

 Ibu Malin Kundang

Hanya lepat yang diambilnya…!?

(Habis berkata itu ia berdiri dengan marah memandang kepada tiap orang)

Kenapa kalian begitu ganas

Menjadi hakim bertindak beringas

Yang dicurinya lepat bukan emas

Kalian menghukumnya nyaris tewas

Dimanakah rasa kemanusiaan kalian,,,?!

 

Polisi 1

Pencuri tetap pencuri

Besar kecil tiada berbeda

Hukum berlaku sama rata

Menteri korupsi berjuta-juta

Atau maling ayam didesa…

Kalau tertangkap…

 

Orang-orang pasar (koor)

……Harus masuk penjara!

 

Ibu Malin Kundang

Tapu si Malin bukan pencuri

Mengambil lepat karena lapar

Dari pagi ia belum makan

Karena dirumah tak ada beras

 Oh… pertimbangkanlah kemiskinan kami ini…!

 

Polisi 1-2

Lapar tak boleh jadi alasan

Untuk menghalalkan satu kejahatan

Mungkin bisa jadi pertimbangan

Tapi bukan membatalkan hukuman

Ayo… anak ibu harus kami bawa ke kantor polisi

 

Ibu Malin Kundang

(Ia berlutut memohon pada polisi)

Jangan…jangan…si Malin dibawa

Jangan…jangan….anakku disiksa

Kalau harus masuk penjara

Biar aku mengggantikannya

 Lepaskan anakku Pak Polisi

Biarkan aku masuk penjara

 

Ia memegang anaknya itu dan memeluknya dengan kuat. Tapi polisi itu mencoba merenggutkannya. Mereka bertarik-tarikan. Ibu Malin Kundang berusaha merenggutkan anaknya, tapi polisi sekuat itu pula mencoba memisahkan si Malin dari ibunya.

 

Adegan 8

Ditengah keributan itu rupanya secara diam-diam telah disaksikan oleh Datuk Nakodo seorang kaya pemilik kapal-kapal besar yang menguasai pelayaran dan perdagangan dipantai barat Sumatera. Ia sangat disegani orang. Karena itu ketika ia maju menengahi keributan itu, kedua polisi itu mundur membungkuk hormat kepadanya.

Datuk Nakodo

Tidakkah kalian dengar ratapan Ibu ini

Karena lapar maka anaknya mencuri

Tuhanpun sudah memperingatkan

Kemiskinan adalah lahan yang rawan

Bagi tumbuhnya kejahatan

 

Untuk menghindarkan kebejatan

Setiap orang harus punya pekerjaan

Karena pekerjaan – memberikan penghasilan

Ia mengangkat Malin Kundang supaya berdiri dan juga membimbing Ibunya supaya tegak. Lalu melanjutkan bertanya pada si Malin.

Maukah kamu bekerja…?

Malin Kundang

(Melihat dulu pada ibunya – kemudian mengangguk)

Mau…!

 

Datuk Nakodo

Bekerja memeras keringat… Bukan meminta-minta…?

 

Malin Kundang

Mau…!

 

Datuk Nakodo

(Kepada kedua orang Polisi)

Nah, lepaskanlah dia

Akan kubawa bekerja dikapal saya

Itu akan lebih baik untuk mendidiknya

Daripada didalam penjara

 

(Kemudian ia berpaling pada Ibu si Malin)

Maukah ibu melepas anakmu untuk bekerja…?

Ia akan saya bawa berlayar mengharungi samudera

 

Ibu Malin Kundang

Saya harus berpisah dengan si Malin…?!

Ia adalah harta kekayaan satu-satunya

Ia adalah tumpuan kasih sayangku satu-satunya… Oh… Tuhan

 

Malin Kundang

(Melihat kebingungan dan keraguan itu, Malin Kundang segera berlutut dikaki Ibunya dan ia bernyanyi dengan sendu)

Kepasar di bandahulu, Mak

Dikarung beras dicuci

Berlayar anak dahulu, Mak

Dikampung semua orang benci

 

Penat sudah bertanam ubi, Mak

Talas jua direbus orang

Penat sudah bertanam budi, Mak

Emas jua dipandang orang

Ikhlaskanlah Malin berlayar, Mak

Mudah-mudahan terhapus jualah malu dikening

 

Ibu Malin Kundang

Kutaruh sudah kutaruh

Kutebus jua jadinya

Kucegah sudah kucegah

Kulepas jua jadinya

Pergilah anakku sayang

Doa mande akan selalu mengiring mu

 

(Habis berkata begitu ia mendekati Datuk Nakodo dan mencium tanggannya, sambil berkata)

Terima kasih Datuk Budiman

Mudah-mudahan ditangan datuk

Anakku kelak menjadi orang yang berguna

Dan mampu melawan dunia orang lain

Terima kasih Datuk

 

MUSIK

Menimpa dengan cepat dalam nada sendu mengiringi anak dan Ibu itu yang saling berpelukan dengan mesranya.

 

Datuk Nakodo membiarkan sejenak perpisahan antara anak dan ibunya itu. Kemudian dengan penuh sayang pula menarik Malin Kundang untuk pergi. Tapi ditengah jalan ia kembali berlari merangkul Ibunya serentak bunyi nada musik yang meninggi. Lalu Datuk Nakodo membawa Malin Kundang berangkat diiringkan oleh pandangan sayu sang Ibu yang terus menatapnya sampai menghilang jauh… bibirnya bergetar seakan berdoa.

(Maka lampu-lampu pun di dimmer sampai menggelapi pentas serentak layar menutup)

 

 

EPISODE II

Narasi (sebelum layar dibuka)

Lima belas tahun sudah berlaku

Malin Kundang pergi meninggalkan Ibu

Mengabdi kerja pada Datuk Nakodo

Sampai diaku bagai anaknya

 

Ketika Datuk meninggal dunia

Karena tak punya sanak keluarga

Ia wariskan segala hartanya

Pada si Malin yang setia merawatnya

 

Backdrop:

Menggambarkan interior ruang tamu sebuah kerajaan Entah Berantah. Bisa saja Melayu-Thailand atau Siam. Yang penting segala property yang ada diruangan itu dan ornament yang menghias dinding-dindingnya menyarankan bahwa itu adalah ruangan sebuah kerajaan. Ada tiga Kursi Singgasana ditengah bagian belakang. Dan 6 kursi lagi berjejer tiga-tiga dikiri kanannya.

 

Adegan 1

Ketika layar dibuka tiga kursi singgasana masih kosong. Cuma dikiri kanannya nampak Punggawa berjaga memegang tombak dan seorang Jurubicara Raja yang memegang pemukul Gong. Dibelakangnya tergantung sebuah Gong besar. Kemudian 6 kursi yang berjejer dikiri kanan, lima sudah diduduki orang. Sedangkan 1 kursi masih tampak kosong.

Juru Bicara Raja memukul Gong 3x, lalu ia bernyanyi.

Juru Bicara

Seri Paduka Maharaja Bumi

Beserta Seri Maharatu permaisuri

Segera akan memasuki ruangan ini

Hadirin semua dipersilahkan berdiri

Maka berdirilah kelima orang tamu yang telah menduduki kursi itu. Raja masuk, diiringkan permaisurinya dan seorang puterinya yang cantik jelita. Ketika Raja telah menduduki singgasananya, maka ia memberi isyarat kepada Jurubicara untuk menyuruh tamu-tamunya duduk kembali.

Juru Bicara

Hadirin dipersilahkan duduk kembali

Setelah tamu-tamu duduk kembali dengan tertib, maka Raja pun memberikan isyaratnya kepada Juru Bicara. Jubir Raja memukul Gong 3x dan segera disambut oleh Musik yang gempita.

 

Musik

Alunan musik dari Tanah Seberang (bisa Melayu-Thailand-atau Siam). Ia bukan saja untuk memberikan suasana bahwa tempat itu berada disebuah Negara yang lain, tetapi juga sekaligus untuk mengiringi Tarian yang akan dipersembahkan oleh para penari istana untuk menghibur raja dan tamu-tamunya. Tarian akan menyesuaikan diri dengan musiknya. Ketika tarian hampir berakhir, kelihatan Malin Kundang yang sudah dewasa dan gagah nampak berdiri dengan ragu-ragu dipintu. Apakah dia akan masuk atau ingin pergi saja, karena didalam ternyata ada acara. Tetapi raja yang melihat telah menggamitnya dan mempersilahkan ia duduk dikursi yang kosong. Ketika tarian berakhir, maka semua bertepuk tangan termasuk Malin Kundang mengiringi para penari yang out off stage.

Juru Bicara

Seri Paduka Maharaja Yang Mulia

Berkenan untuk memulai acara

(Selanjutnya ia teruskan dalam nyanyian)

Beritanya telah tersiar

Dimana-mana telah terpancar

Baik melalui Surat-surat kabar

Maupun gosip-gosip di pasar

 

Maharaja berniat mencari mantu

Untuk anaknya sang puteri ratu

Pilihannya hanyalah Satu

Tentu saja yang paling bermutu

 

Anak Raja syarat utama

Gagah rupawan syarat kedua

Jika bukan puteranya raja

Silahkan keluar dari istana

 

Lima tamu yang hadir

(Menjawab bersama dalam nyanyian)

Kalau bukan puteranya raja

Pemuda tampan yang kaya raya

Walau ayahnya rakyat jelata

Tidakkah juga dapat diterima?

 

Juru bicara melihat dulu kepada raja. Dan raja membirakan isyarat dengan tangannya. Kemudian ia baru membalas lagi dengan nyanyian.

Juru Bicara

Putera Raja syarat utama

Tidak dapat ditawar-tawar

Kalau bukan anaknya Raja

Silahkan saja segera keluar

 

Adegan 2

Vakum sebentar, Jurubicara dan raja memberi kesempatan pada para pelamar yang tidak memenuhi syarat untuk meninggalkan ruangan. Ada dua orang yang berdiri, memberi hormat pada raja dan segera meninggalkan ruangan. Malin Kundang semula nampak ragu-ragu. Ia gelisah antara mau keluar atau terus duduk saja. Tetapi akhirnya ia kelihatan begitu mantap untuk tinggal dalam ruangan. Karena tidak ada yang keluar lagi, maka Juru Bicara kembali memukul Gong 3x.

Juru Bicara

(Masih dalam nyanyian)

Sudah terpisah beras dan atah

Tinggal yang bernas jadi pilihan

Kepada empat putera yang gagah

Biodata silahkan saling ungkapkan

(Sambil ia menunjuk pada anak raja yang duduk paling depan)

 

Anak Raja Bhutan

Membungkuk dulu memberi hormat pada Raja dan Ratu, kemudian bernyanyi dengan nada tinggi sehingga dari suaranya terbayang kesombongannya.

Namaku Pangeran Kantan

Putera Raja dari Bhutan

Ayahku bernama Baminyak Santan

Istanaku besar diatas pegunungan

 

Tidak terbilang harta kekayaan

Emas perak intan berlian

Kalau Sang Puteri hari berkenan

Kuberikan sebagai mahar perkawinan

 

Habis bernyanyi itu ia memalingkan mukanya dengan angkuh kepada setiap orang. Setelah memberi hormat pada raja maka ia duduk kembali dikursinya. Juru Bicara menunjuk pada anak raja berikutnya.

Anak Raja Birma

Yang ditunjuk pun berdiri dengan gagah. Setelah memberi hormat, maka ia pun bernyanyi dengan nada tinggi.

Aku Meongka anak Raja Birma

Penghasil beras terbesar didunia

Permaisuriku tak perlu bekerja

Cukup mencari-cari kutu saja

Siang malam hanya bercinta

Takkan kelaparan sepanjang masa

Ia juga bergaya pongah dan setelah bernyanyi itu melihat pula berkeliling, kemudian baru duduk kembali setelah memberi hormat pada Raja. Juru Bicara menunjuk lagi pada anak raja yang ketiga.

Anak Raja India

Saya anak Raja dari Hindustan

Bernama Pradip Sultana Mohan

Penduduk kedua terbesar didunia

Punya Taj mahal perlambang cinta

 

Siapa yang jadi permaisuriku

Senang hidupnya sepanjang waktu

Tidak hiraukan sedih dan pilu

Siang menari malam berlagu

 

Aca…aca…Muhabat

 

Maka dengan gayanya yang lucu Anak raja India ini memberi hormat pula pada Raja. Juru Bicara sekarang menunjuk pada Malin Kundang. Semula ia kelihatan ragu-ragu untuk berdiri, tetapi karena semua orang menatapnya maka ia memberanikan diri untuk tegak. Ia menghormati Raja dengan menyusun sepuluh jari diatas keningnya. Karena ragu-ragu ia bernyanyi dengan suara rendah. Tapi karena itu pula Raja membandingkannya dengan yang lain dan mengira Malin Kundang seorang yang rendah hati.

Malin Kundang

Nama saja si Malin Kundang

Kerajaan saya jauh diseberang

Ranah Minang disebut orang

Emas disungai banyak didulang

 

Konon rakyatnya hidupnya senang

Siang berkipas malam bergoyang

Makan nasi lauknya rending

Habis beras diganti kentang

Melihat gaya Malin Kundang bernyanyi, puteri Raja nampak menahan gelak. Setelah Malin Kundang menyembah kepada Raja, maka ia duduk kembali dengan tertib. Raja berbisik pada Permaisurinya. Dan Permaisuri berbisik pula pada Puterinya. Setelah itu Permaisuri berbisik kembali pada Raja. Dan Raja setelah mendengar bisikan itu, menggamit Juru Bicara supaya mendekat. Setelah mendengar bisikan Raja, Juru Bicara memukul Gong 3x. Kemudian ia bernyanyi:

Juru Bicara

Setelah dilihat dan dipertimbangkan

Bermacam gaya yang dipertunjukkan

Sang Puteri juga menentukan pilihan

Maka Raja mengambil putusan

 

Tidak tergiur pongahnya kata

Tidak terpancing kilauan harta

Yang penting dia puteranya Raja

Pelamar keempat yang diterima

 

Adegan 3

Berkata demikian sambil Juru Bicara menunjuk pada Malin Kundang. Malin Kundang segera memegang dadanya karena tidak percaya bahwa dia yang akan terpilih. Ketiga Putera Raja yang lain serentak berdiri dan dengan suara kesal serentak pula bernyanyi.

Tiga Anak Raja

Sungguh sayembara tidak bermutu

Kami bertiga diberi malu

Yang dipilih belum lah tentu

Anak Raja atau penipu

 

Dimana itu kerajaan Minang

Tidak pernah disebut orang

Kalau memang bukan pecundang

Hadapi kami bermain pedang

Ketiganya mencabut pedang dan menantang Malin Kundang untuk berkelahi. Malin Kundang nampaknya juga tidak gentar, ia menghadapi ketiganya dengan gaya silat tanpa senjata. Tapi sebelum semuanya terjadi, Sang Raja tiba-tiba berdiri dan menghardik dengan suara keras.

Raja

Akulah Raja yang menentukan

Menghitamkan dan memutihkan

Segala yang sudah kuputuskan

Tiada seorang boleh melawan

 

Kalian bertiga saya perintahkan

Tempat ini segera tinggalkan

Maka beberapa orang Punggawa bersenjata tombak, menghalau ketiga Anak Raja yang membangkang itu keluar. Setelah Anak Raja itu keluar, maka Raja menggamit lagi Juru Bicaranya, setelah mendengar bisikan Raja, maka Juru Bicara pun berkata pada Malin Kundang.

Juru Bicara

Cinta adalah keikhlasan perasaan

Takkan mungkin hadir karena paksaan

Kesan pertama bisa menyilaukan

Tapi hati bersatu yang menentukan

 

Karena itu Raja memberi kesempatan

Kalian berdua untuk saling berkenalan

Habis berkata begitu ia memukul Gong 3x. Dan bersama Raja dan permaisuri ia meninggalkan ruangan itu, membiarkan Malin Kundang tinggal berdua dengan Sang Puteri.

 

Adegan 4

Mulanya keduanya sepertu saling malu-malu. Diam begitu saja saling memandang dengan sudut mata. Tetapi ketika Sang Puteri bergerak melangkah kedepan dan berdiri didekat jendela, maka Malin Kundang pun berdiri mendekatinya. Ia memandang dengan nanar puteri yang cantik itu yang tertunduk malu. Ia mengangkat dagu Sang Puteri dengan mesra, sambil bernyanyi.

Malin Kundang

Takdir telah menentukan, sayang

Kita bersatu didalam cinta

Hilangkan segala keraguan, sayang

Mari merangkuh hari bahagia

 

Sang Puteri

Bagaimana ku percaya, kasih

Cintamu suci bukanlah dusta

Pasrahkan hidup tuk selamanya, kasih

Cemasku nanti kan tersia-sia

 

Refrein (duet)

Masa depan jangan takuti

Asalkan kita bersatu hati

Kalau cinta memang sejati

Takkan menyesal sampai mati

 

Malin Kundang

Percayalah kepadaku, sayang

Cinta suciku hanya untukmu

 

Sang Puteri

Kupercaya kepadamu, kasih

Hidup matiku hanya untukmu

 

Kembali kebait refrein:

Masa depan jangan takuti

Asalkan kita bersatu hati

Kalau cinta memang sejati

Takkan menyesal sampai mati

Setelah menyelesaikan nyanyian itu musik yang menyentak mesra dan seiring lampu yang didimer turun, kelihatan bayangan tubuh mereka yang saling berpelukan, dan akhirnya hilang ditutup layar.

 

EPISODE III

Backdrop: Eksteriur menggambarkan sebuah dermaga kayu dipinggir laut. Disekitar tempat itu juga tampak banyak batu-batu karang yang bertonjolan disana sini.

 

Musik

Full orkestra sebagai pembuka dalam nada-nada Minang yang dinamik. Sekaligus merupakan background untuk sejumlah anak-anak yang sudah berbaris seperti Episode pertama membawakan nyanyian bersama untuk pengantar Episode ketiga. Diawali dengan suara tunggal, kemudian dosambut dengan koor mengulang baris ketiga dan keempat seperti pakem lagu tradisi randai.

LAGU PENGANTAR

Beruntung nasib si Malin Kundang

Pewaris harta si Induk Semang

Kawin dengan Putri nan Jombang

Hidupnya kini semakin senang

 

Koor:

Kawin dengan Putri nan Jombang

Hidupnya kini semakin senang

Terdengar kabar dia kan pulang

Lautan luas akan dihadang

Mengangkat harkat yang pernah hilang

Inginkan hormat orang memandang

 

Koor:

Mengangkat harkat yang pernah hilang

Inginkan hormat orang memandang

 

Adegan 1

Setelah nyanyian koor itu maka ada beberapa anak-anak yang keluar dari kelompok berkejaran sepanjang pantai dan tiba-tiba salah seorang diantaranya ada yang naik ke dermaga kayu sambil memandang jauh ketengah lautan.

Anak Pertama

(Ia berteriak kepada kawan-kawannya)

Hai kawan-kawan… ditengah laut ada sebuah kapal besar

Nampaknya sedang menuju kemari…!

Beberapa anak-anak ada yang ikut berlari naik keatas dermaga dan meninjau kearah yang ditunjukkan oleh kawannya.

Anak Kedua

Mana… mana… mana kapal itu?

Anak Pertama

Itu dia pandir… lihat sebelah kanan

Bukankah itu sebuah kapal besar

Yang sedang meracah gelombang

Menuju kemari…!

 

Anak Kedua

Ya… ya kulihat… Wah itu sebuah kapal mewah

Kapal siapa itu…?

Tidak pernah ada kapal semewah itu merapat kemari…!

 

Anak Ketiga

Semalam kudengar Mamak berkata

Malin Kundang yang telah kaya raya di rantau orang

Akan pulang ke Ranah Minang

Mungkin itu dia kapalnya…!

Ketiga anak ini melompat turun dari dermaga sambil berteriak-teriak kepada kawan-kawannya yang lain.

Anak 1,2,3

(Dalam nyanyian)

Ada kapal ditengah laut

Kapal mewah bukan kepalang

Kalau boleh kami menyebut

Katanya kapal si Malin Kundang

 

Anak-anak yang lain

(Dengan nada dan gaya bercanda)

Malin Kundang kapalnya gadang

Kini dia lah pulang kandang

Tentu uangnya juga segudang

Bagilah kami saketek surang

 

Adegan 2

Ada seorang pemuda yang tersinggung dengan kelakuan anak-anak itu. Ia maju mendekat dan berkata marah.

Pemuda

Hust.. jangan kalian mengejek orang

Malin Kundang waktu kecil adalah teman sepermainan saya

Seharusnya kita sambut dia dengan tari gelombang

Karena sekarang dia telah kaya raya

 

Anak kedua pada Anak Pertama

Kalau sudah kaya orang baru dia menghormat

Waktu melarat-dia bilang penjahat

Huh… dasar penjilat

 

Adegan 3

Ada serombongan orang kampung lagi yang datang ke Dermaga. Kebanyakan wanita salah seorang diantaranya naik ke dermaga kemudian melompat turun dan bernyanyi.

Wanita penyampai berita

Dengarkanlah wahai sanak saudara

Aku sampaikan berita amat gembira

Ada kapal mewah menuju ke Muara

Yang punya si Malin rang kampung kita

 

Orang-orang kampung

(Dalam nyanyian bersama)

Malin Kundang rang Kampung kita

Dulu melarat miskin dan papa

Kini pulang lah kaya raya

Sungguhlah Tuhan Maha Kuasa

 

Seorang haji

Karena itu janganlah suka

Menghina orang kala sengsara

Tuhan berbuat sekehendaknya

Yang kayapun bisa punah hartanya

 

Adegan 4

Didalam kegalauan orang ramai itu, dengan tertatih-tatih dan bertongkat masuklah Ibu Malin Kundang. Ia menyeruak ketengah, dan orang-orang memperhatikannya. Dengan suara yang penuh harap memandangi setiap wajah sambil bernyanyi.

Ibu Malin Kundang

Telingaku kah yang salah dengar

Anakku sayang si Malin Kundang

Bertahun-tahun tiada kabar

Benarkah dia sekarang lah pulang

 

Orang-orang kampung

(Dalam nyanyian bersama)

Mandeh benar-mandeh benar

Telingamu tak salah dengar

Mandeh sayang-mandeh sayang

 

Ibu Malin Kundang

Coba ulangi sekali lagi

Tidakkah ini hanyalah mimpi

Bertahun-tahun aku menanti

Benarkah anakku telah kembali

 

Orang-orang kampung

(Dalam nyanyian bersama)

Bukan mimpi-bukan mimpi

Ini benar-benar terjadi

Tengah laut-mande lihat

Kapalnya telah semakin dekat

 

Ibu Malin Kundang

(Melihat sebentar kelaut, kemudian tiba-tiba ia bersujud ke tanah)

Syukur padamu Tuhan Yang Rahman

Doaku kini engkau kabulkan

Sebelum ajal datang menjelang

Bertemu anakku si Malin Kundang

 

Adegan 5

Orang-orang kampung membangunkan perempuan itu membimbingnya beramai-ramai. Mereka mengayun dalam gerakan tari yang gembira seakan-akan sedang menuju kesuatu tempat.

Orang-orang kampung

(Dalam nyanyian bersama)

Ayo mandeh.. mari mandeh

Ke Muaro kito bagageh

Mari sayang.. Mandeh sayang

Kito sonsong anakmu pulang

Musik

Yang meriah dan penuh kegembiaraan mengiringi orang-orang kampung yang sedang mengayun dalam tarian bersama itu.

 

Adegan 6

Seiring dengan bunyi terompet kapal maka ujung sebuah kapal besar yang mewah dimana diatasnya berdiri beberapa kelasi diseret masuk sampai ke Dermaga. Semua orang didarat mengerubungi dan memandangnya dengan kagum. Diatas geladak tiba-tiba nampak Malin Kundang yang gagah berdiri di samping isterinya yang cantik. Salah seorang awak kapal meniup terompet kerang dan dengan suara keras berteriak dari atas.

Awak Kapal

Wahai semua orang didarat

Lapangkan jalan jangan menghambat

Tuanku Malin dan permaisuri

Berkenan turun menginjak bumi

 

Dua orang awak kapal lagi turun kedarat dan mengembangkan karpet merah yang akan dilalui. Malin Kundang setelah menunjuk-nunjuk kesana kemari seperti menjelaskan sesuatu pada isterinya, akhirnya melangkah turun dari kapal. Semua orang yang berada disisi kiri kanan karpet membungkuk memberi hormat pada Malin Kundang. Salah seorang diantara ada yang berteriak.

 

Pemuda kampung

Hidup Malin Kundang….!

Hidup rang kampung kita…!

 

Orang-orang kampung lain

(Bersorak pula bersama-sama)

Hidup Malin Kundang…!

Hidup rang kampung kita…!

 

Adegan 7

Menyeruak ditengah ramai itu majulah Ibu Malin Kundang tertatih-tatih menyongsong anaknya.

Ibu Malin Kundang

Anakku sayang si Malin Kundang

Lama kutunggu kini kau datang

Terkabul jua malah doaku

Bertemu dengan anak kandungku

 

Sejenak Malin Kundang tertegun, kemudian dengan keras tiba-tiba ia menarik tangan isterinya untuk kembali naik ke kapal. Tetapi isterinya sekuat itu pula menahan tarikan suaminya.

Isteri Malin Kundang

Kenapa abang berbaik surut

Seperti orang yang sedang takut

Perempuan ini tadi menyebut

Ibu kandungmu datang menjemput

 

Malin Kundang

(Dengan nada marah penutup malu)

Janganlah adik menghina daku

Sakit rasanya didalam hati

Perempuan ini bukan Ibuku

Ibu kandungku keturunan puti

Bukan seperti perempuan itu

Mengaku-ngaku tak tahu diri

 

Ibu Malin Kundang

(Masih dengan penuh harap makin mendekati anaknya)

Bukan aku mengaku-ngaku, nak

Codet pipimu tanda yang pasti

Engkau terlahir dari rahimku, nak

Ibumu bukan keturunan puti

 

Malin Kundang

(Dengan nada tinggi karena semakin marah. Ia menuding-nuding perempuan itu)

Hai perempuan tak tahu malu

Jangan bermimpi aku anakmu

Ambil cermin tatap wajahmu

Pantaskah engkau jadi ibuku

 

Ibu Malin Kundang

(Karena kerinduannya, ia tidak menghiraukan kata-kata anaknya itu. Ia malah menjerembab dan memegangi kaki Malin Kundang)

Lama kutahan rindu didada

Siang dan malam aku berdoa

Wahai anakku belahan nyawa

Belai rinduku duhai ananda…

 

Ibu Malin Kundang memeluk kaki anaknya itu dengan erat. Tapi Malin Kundang malah menariknya dengan keras membuat perempuan tua itu jatuh terjangkang. Orang-orang yang melihat memandangnya dengan mata menghukum, dan ini membuat Malin Kundang semakin marah.

 

Malin Kundang

Perempuan gila tak tahu diri

Membuat ku malu ditengah rami

Sudah kukatakan Ibuku keturunan Puti

Nyahlah engkau dari sini

 

Malin Kundang berkata begitu sambil ia datang dan menyepakkan tubuh perempuan itu sehingga sekali lagi ia jatuh terjangkang. Isteri Malin Kundang berusaha untuk menolong dan membangunkan perempuan itu, tetapi Malin Kundang telah menyeretnya naik kembali keatas kapal. Orang-orang ramai yang berada didarat juga tak tega melihat kejadian itu, dan banyak yang menghilang meninggalkan dermaga. Tinggallah Ibu Malin Kundang seorang yang tertelungkup menangis tersedu-sedu. Setelah tangisnya agak reda, ia duduk bersimpuh dan menadahkan tangannya kelangit, berdoa.

 

Ibu Malin Kundang

Ya Tuhan Yan Maha Kuasa

Engkaulah Yang Maha Tahu

Jika dia bukan anakku

Maafkanlah kekhilafanku

Tapi jika dia benar anakku

Jatuhkan padanya kutukanmu….!

 

Adegan 8

Sehabis doa Ibu Malin Kundang ini, maka terdengarlah petir tunggal menggelegar dengan dahsyat, diikuti oleh deruman bunyi angin puyuh yang bertiup makin lama makin kencang membuat semua benda-benda yang ada dipinggir laut itu berterbangan. Termasuk kapal Malin Kundang yang masih bersandar di dermaga kelihatan bergoyang-goyang diterpa angin puyuh. Orang-orang berlompatan turun dan berlarian kesana kemari saling menjerit ketakutan.

 

Sound & Lighting Effect

Ketika suara-suara ombak gemuruh bergulung dan angin kencang itu makin ramai, maka strobo light memancar berkali-kali seakan kilatan petir yang membelah kegelapan. Dan ditengah-tengah kekacauan itu terdengar pula berkali-kali teriakan orang.

Malin Kundang

Mandeeeeeh… ampun mandeeeeh…!

Ampuuuuun Mandeeeeeh!

Tapi suara teriakan Malin Kundang itu lenyap ditelan puncak gemuruh suara seakan kapal yang sedang pecah terhempas kekarang.

 

Adegan 9

Ketika kemarahan alam itu sudah berhenti, suasana menjadi sunyi senyap. Yang terdengar hanya kecipak air laut dibibir pantai. Dan ketika cahaya lampu diangkat kembali sedikit demi sedikit, nampaklah asap mengepul disana sini. Dan disalah satu tempat dibalik asap-asap yang mengepul itu tampak… Malin Kundang terpaku duduk bersimpuh – telah menjadi batu. Tangannya mengacung seperti orang mintak tolong. Gambaran itu semakin jelas setelah seluruh asap-asap yang menutup, hilang tertiup angin.

 

Ibu Malin Kundang yang selama peristiwa alam itu bersujud ketanah, dengan pelan-pelan mengangkat kepalanya. Memandang kekiri dan kekanan seakan tak percaya. Kemudian matanya jatuh pada Malin Kundang yang telah menjadi batu bersimpuh diantara karang-karang dan pecahan-pecahan kapal yang berserakan. Ibu Malin Kundang tertatih-tatih datang mendekati batu itu. Merabanya dari kaki sampai kekepala dengan wajah tak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih berkali-kali, kemudian merangkul batu yang telah kaku itu.

Ibu Malin Kundang

Oh Tuhan…

Bukan ini yang ku inginkan

 

Sejahat apapun dia…

Dia lahir dari rahimku

Seburuk apapun dia…

Dia adalah anak kandungku

 

Tapi sekarang Oh Tuhan…

Ia telah menjadi batu

 

Musik

Habis berkata itu ia menangis tersedu-sedu dan tangisan penyesalan Ibu Malin Kundang ini disambut musik yang bergemuruh, menggambarkan geliat hati seorang Ibu yang tidak menyangka bahwa kutukannya akan berakibat seperti itu. Ini mungkin harus diaksentuir dengan gesekan biola yang mengiris hati diiringi nyanyian koor penutup.

 

Malin Kundang putera yang satu

Kutukan Tuhan sumpah berlaku

Teriris pedih hati sang Ibu

Anaknya telah menjadi batu….

 

Jakarta, 5 September 2006

Tagged , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: