Category Archives: Autobiography

PELUNCURAN BUKU “IN MEMORIAM 100 SENIMAN, WARTAWAN & BUDAYAWAN SUMATERA BARAT”

Hari Rabu tgl 25 Mei 2017 bertempat si Ballroom Nan Tongga Hotel Premier Basko di Padang. Telah diluncurkan buku karya terbaru Nazif Basir yang berjudul “In Memoriam 100 Seniman, Wartawan dan Budayawan Sumatera Barat”. Di dalam buku tersebut juga telah ditambahkan 10 tokoh Sumatera Barat lainnya yang ditulis oleh Taufiq Ismail. Pengantar dari buku itu ialah Prof. Dr. Taufik Abdullah, sedangkan pembahasannya dilakukan oleh Prof. Dr. Mestika Zed dengan moderator Prof. Dr. Haris Effendi Thahar. Peluncuran buku tersebut juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan Wakil Gubernur Sumatera Barat Bpk. Nasrul Abid dan sejumlah tokoh-tokoh Minang lain di Sumatera Barat.

Advertisements

BISAKAH PANTAI AIR MANIS DIBANGUN JADI “MALIN KUNDANG BEACH”?

Dalam usia senja sekarang ini saya sering berkunjung bersama dengan cucu-cucu saya ke tempat rekreasi dan objek-objek wisata diberbagai kota didunia. Di Taiwan bersama puluhan wisatawan-wisatawan asing kami pernah dibawa melewati jalan-jalan berliku berkunjung kesuatu puncak bukit disebuah desa bernama Hua Lien. Disana kami hanya dibawa untuk menyaksikan satu patung batu perempuan yang sedang memangku anak melihat jauh kelaut.

Saya bertanya kepada Tour Guide yang memandu perjalanan kami, apa makna dan cerita dari patung tersebut. Ia mengatakan bahwa patung itu dulunya adalah seorang isteri nelayan dikampung itu yang sangat setia kepada suaminya. Karena suaminya seorang nelayan tidak pulang-pulang dari laut mungkin karena telah tenggelam, maka si isteri dengan memangku anaknya bertahun-tahun setia menunggu terus dipuncak bukit itu sampai menjadi batu.

package_1318_AsiaBookIn.com_Taiwan_kaosiong_Alishan 2

Taroko Hualien Foto sumber dari Google

BATU MALIN KUNDANG LEBIH BERMAKNA

Peristiwa ini mengingatkan saya kepada batu Malin Kundang di pantai Air Manis Padang. Telah bertahun-tahun saya bersama grup Sangrina Bunda mengadakan pertunjukan dihampir 45 negara di lima benua. Lebih dari tiga perempat kota yang  pernah kami  kunjungi itu, selain dari njanyian dan tarian etnik Nusantara kami juga selalu menampilkan kisah Malin Kundang dalam bentuk Drama Musikal (Opera). Walaupun naskah itu kami bawakan dalam bahasa Indonesia, tetapi karena publikasi berbahasa setempat yang dibagikan kepada penonton sebelum acara dimulai, membuat para penonton dimana saja cukup mengerti dan sering juga terharu menyaksikan peristiwa pendurhakaan anak yang sangat menyakitkan yang ditampilkan dalam opera tersebut. Legenda Malin Kundang ini dibanding Patung Taiwan ternyata mengandung filosofi edukasi yang lebih bermakna bagi pendidikan moral anak-anak. Agaknya dengan pertunjukan-pertunjukan Drama Malin Kundang yang kami lakukan itu, hampir diseluruh dunia orang sudah mengetahui kisah tersebut dan mungkin juga sebagian dari mereka pernah berkunjung ke Sumatera Barat demi untuk menyaksikan anak durhaka yang dikutuk Tuhan menjadi Batu itu.

TIDAK TERTATA SECARA PROFESIONAL

Tapi di Pantai Air Manis yang terletak lebih dari 13 KM dari Kota Padang tidak ada sarana jalan yang mulus dapat ditempuh sesuai dengan kenyamanan yang diharapkan oleh wisatawan Manca Negara. Setelah sampai ditempat itupun semua masih nampak semrawut tanpa penataan yang bisa memberikan kenyamanan pelayanan oleh orang-orang sekitar tempat itu kepada para pengunjung. Cucu-cucu saya yang pernah dibawa oleh bapak ibunya ketempat tersebut oleh karena adanya unsur-unsur pendidikan moral yang sangat berguna diajarkan kepada anak-anak agar tidak pernah mendurhaka kepada orang tuanya, mereka juga tidak tertarik jika yang mereka saksikan hanya patung  batu yang sudah hampir habis terkikis oleh air laut dan hampir terbenam oleh pasir tanpa adanya sarana-sarana lain.

Saya memperbandingkan dengan patung ibu memangku anak di Taiwan. Alangkah jauh dan berliku-likunya jalan bus yang kami tumpangi untuk dapat menuju lokasi itu. Walaupun kemudian yang kami saksikan hanyalah sebuah patung batu, tetapi lingkungan sekitar tempat itu tertata dengan rapi. Tersedia tempat parkir yang sangat luas bisa menampung puluhan bus dan mobil-mobil yang dibawa pengunjung pribadi. Disekitarnya juga terdapat kios-kios yang menjual barang-barang souvenir khas Taiwan  dan bar-bar yang menyediakan berbagai macam makan dan minuman. Lalu juga tersedia toilet-toilet umum yang bersih untuk orang yang ingin membuang hajat. Tempat-tempat itu juga dijaga oleh gadis-gadis Taiwan yang manis-manis dengan memakai kostum-kostum adat mereka. Setiap gadis-gadis ini mampu menjelaskan kepada para wisatawan yang datang tentang adat istiadat kampung itu dan cerita mengenai isteri nelayan yang telah membatu itu.

Malin Kundang 2

Foto sumber dari Youtube – http://www.indonesiakaya.com

“LEGO LAND” di JOHOR BARU

Beberapa bulan yang lalu saya juga membawa cucu-cucu saya ke Johor Baru di Malaysia. Disana ada objek rekreasi dan wisata yang diberi nama “Lego Land”. Berada disuatu lokasi yang sangat luas diseberang kota Singapura. Tempat ini walau hanya memblow-up permainan tumpukan lego anak-anak berwarna warni, ternyata juga sangat banyak didatangi oleh para pengunjung yang membawa keluarga dan anak-anaknya datang dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia.

20140626_160147

Bersama keluarga beserta cucu-cucu berlibur ke LEGOLAND Malaysia

KAMPUNG GAJAH DAN DE RANCH DI BANDUNG

Tidak usah jauh jauh. Baru-baru ini saya juga membawa cucu-cucu saya ke Bandung. Alangkah banyaknya tempat-tempat rekreasi bagi anak-anak dan wisatawan yang terdapat dikota ini yang dikelola dengan sangat baik dan profesional. Ada kampung Gajah yang menawarkan berbagai  sarana rekreasi bagi anak-anak dan orang tua. Ada “De Ranch” bekas tempat pemeliharaan kuda, yang juga dikembangkan menjadi objek rekreasi bagi anak-anak. Mereka bisa menyewa dan belajar naik kuda dengan dipandu oleh petugas-petugasnya. Mereka bisa belajar menjadi  kusir membawa kereta-kereta kuda, mereka bisa belajar memanah, belajar memerah susu sapi, kambing dan lain lain sebagainya. Di Bandung juga terdapat apa yang disebut “Floating Market” atau Pasar terapung. Sebuah danau kecil buatan dekat Lembang telah dibangun dan disekitar pinggir-pinggir danaunya dipenuhi oleh deretan-deretan perahu yang sama dengan warna-warni yang menawarkan berbagai jenis makanan kepada pengunjung. Salah satu sisi danau itu juga dijadikan terminal penyewaan bagi anak anak yang ingin bermain sepeda air, berkano dan  bersampan. Sekitar tempat itu juga disediakan tempat parkir Bus-bus dan mobil-mobil pribadi yang selalu penuh di jajari kendaraan pada musim liburan.

IMG_20150221_184712

Screenshot_2015-02-21-18-56-10 Di De Ranch, cucu-cucu ikut belajar menunggang kuda dan memanah

20150221_171535

20150221_161254 Atas: Di Floating Market cucu-cucu sedang memberikan makan ikan. Bawah: Di Floating Market kita dapat menyicipikan makanan khas di Bandung yang dijual diperahu-perahu disekitar danau buatan, para pengunjung juga dapat menaiki perahu dan sampan yang tersedia.

LALU SAYAPUN BERMIMPI

Semua yang saya saksikan bersama cucu-cucu saya inilah yang kemudian mendorong saya untuk bermimpi. Kapankah kota Padang punya tempat-tempat rekreasi dan objek wisata yang dikelola secara profesional. Bukan  kekayaan alam yang disuguhkan begitu saya tanpa kreasi dan inovasi yang visioner. Objek wisata Batu Malin Kundang yang sudah sangat terkenl diberbagai belahan dunia itu, tidak adakah seorang investor awak yang bersedia untuk membangunnya menjadi suatu objek wisata yang bernilai edukatif dan rekreatif sehingga menyenangkan orang datang untuk berkunjung walau harus membayar tiket untuk masuk dan memarkir mobilnya. Karena Batu Malin Kundang lebih bermakna untuk pendidikan moral anak anak dibanding patung batu perempuan di bukit Hua Lien.

Kota Padang selain dari pantainya yang juga tidak pernah tergarap secara profesional, walaupun sebenarnya tidak kalah menarik dari pantai Casablanca di Maroko, maka objek Batu Malin Kundang yang sudah mendunia ini pun tidak pernah terjamah tangan tangan pengusaha untuk mengembangkannya menjadi tempat rekreasi yang berkelas. Tempat itu harus menjadi objek rekreasi yang dapat menghibur pengunjung dan menyenangkan hati anak-anak. Di dalamnya perlu dilengkapi dengan berbagai sarana permainan anak-anak, disamping relief cerita Malin Kundang yang lengkap di dinding yang abadi dan kapanpun dapat dilihat dan dimengerti oleh yang menyaksikan. Ada bangunan-bangunan tempat pemutaran film-film animasi Malin Kundang yang sewaktu waktu dapat ditonton oleh pengunjung. Juga disediakan sebuah amphi teater kecil (Medan nan bapaneh) dimana para seniman setempat sewaktu-waktu dapat mempersembahkan pertunjukan-pertunjukan kepada penonton yang mengangkat cerita Malin Kundang dalam berbagai versi. Berbentuk Tarian maupun drama-drama pendek. Akan lebih baik lagi jika kepada pengunjung dapat dijual buku-buku kecil cerita bergambar Malin Kundang yang ditulis dalam berbagai bahasa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Bahasa Belanda, Tionghoa, Jepang dan lain-lain sebagainya.

Peta Malin Kundang Beach

“MALIN KUNDANG BEACH”

Mimpi inilah yang kemudian mendorong saya untuk membuat konsep kasar yang diberi judul “Malin Kundang Beach” sebagai mana terlampir bersama tulisan ini. Gambar ini lahir dari angan-angan saya setelah menyaksikan berbagai objek rekreasi anak-anak yang terdapat diberbagai belahan dunia. Anak-anak, tetaplah anak anak. Disamping pendidikan mereka juga perlu menyenangkan hatinya dengan sarana-sarana permainan. Di Padang, kemanakah anak-anak ini harus dibawa? Banyak diantara mereka yang berada dikota Padang dan kota-kota lainnya di Sumatera Barat yang pernah menyaksikan berbagai objek rekreasi di kota-kota di Jawa bahkan juga diluar negeri. Dikampungnya sendiri, mereka akan dibawa kemana? Yang perlu siapakah investor yang bersedia mewujudkan mimpi ini menjadi kenyataan…..?! Dan bagaimana cara penyelesaian tanah yang harus tergusur karena pembangunan projek ini…? Sayangnya mimpi saya tidak pernah mendetil sampai kesana….! (Nazif Basir)***

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Peluncuran Buku Biografi Elly Kasim

004 a (2)

Pada tanggal 12 Juni 2014 dalam usia 80 tahun, saya telah menyelesaikan penulisan buku Elly Kasim setebal 370 halaman yang telah diluncurkan secara resmi dalam satu upacara yang dilaksanakan di Ballroom Hotel Kartika Chandra, yang dihadiri oleh para pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat di Jakarta dan Sumatera Barat. Dalam buku tersebut telah menuliskan testimoninya antara lain Bapak H. Muhammad Jusuf Kalla, Bapak Gamawan Fauzi, Bapak Emil Salim, Bapak Azwar Anas, Bapak Agum Gumelar dan Isteri, Gubernur Sumatera Barat Bapak Irwan Prayitno, selain dari para pejabat tersebut juga telah memberikan testimoninya dari kalangan rakyat seperti Guru, pedagang kaki lima, pedagang sate, tukang jahit, dan lain-lainnya. Buku ini dengan pimpinan tim penerbitan Ibu Ati Taufiq Ismail telah di desain secara apik oleh Yulianto Photography dan Novia Ristania, sedangkan kata pengantar buku ditulis oleh Dr. HC. Ary Ginanjar Agustian.

Pada acara peluncuran hari kamis tanggal 12 Juni itu, selain dari para pejabat, juga dihadiri ole h artis-artis lawas dan baru, seperti Titiek Puspa, Diah Iskandar dan Be3. Sedangkan MC acara dibawakan oleh aktor Derry Drajat dan Melly Zamri.

Tagged , , , , ,

Kegiatan Teater Nazif Basir di Tahun 55 s/d 66 (Part 2)

SEJARAH TEATER KOTA PADANG

 

1. Kehidupan teater di Sumbar

Sebelum melanjutkan sekolah dari SMP Bukittinggi ke SMA di Yogyakarta tahun 1951, maka dikampung saya Balingka kecamatan IV Koto Kabupaten Agam sudah menjadi tradisi setiap hari Raya Idul fitri mengadakan pertunjukan sandiwara selama 3 malam berturut-turut yang ketika itu disebut sebagai pertunjukan Tonil. Dengan mengosongkan sekolah dan menyusun bangku-bangku rata sebagai pentas, kemudian dilengkapi dengan layar untuk membuka tutup panggung, para penonton berjejer duduk dikursi dalam ruang-ruang kelas yang lain yang telah dibuka dinding-dinding penyekatnya. Pertunjukan tersebut biasa dipimpin oleh kakak beradik Rasyidin Rasyid dan Anis Rasyid yang pernah menempuh pendidikan jaman Jepang di INS Kayu Tanam dibawah pimpinan Engku Syafei. Pertunjukan Tonil di Balingka itu dilakukan dengan mempergunakan script yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Saya sendiri ketika itu juga sudah ikut dibawa main untuk peran peran pembantu. Cerita-cerita sandiwara yang pernah saya ingat dimainkan pada waktu itu berjudul antara lain: Pelarian dari Nusa Kambangan – Dokter Syamsi – Puputan Bali – Penjaga Kubur – Tuanku Imam Bonjol, dll.

Saya rasa pertunjukan tonil pada jaman itu oleh anak-anak INS dicontoh dari pertunjukan-pertunjukan yang sama yang pernah dilakukan oleh Kelompok Ratu Asia dibawah pimpinan Syamsudin Syafei yang konon pernah juga mengadakan pertunjukan keliling di Sumatera Barat pada tahun-tahun akhir pendudukan Jepang dan pada tahun-tahun Agresi Pertama dan Kedua di Sumatra Barat.

2. Alasan pendirian kelompok Teater Kota Padang

Bagi saya sendiri pengalaman tonil dikampung ini yang kemudian mendorong saya  untuk memilih jurusan Seni Drama dan Film di Jogyakarta. Cuma sayang walaupun bernama Akademi Seni Drama dan Film, maka pelajaran utama ketika itu lebih terpusat pada Drama, sedangkan Film atau Cinemagrafi tidak pernah tersentuh karena ketiadaan fasilitas dan dosen- dosen yang bisa mengajar untuk ilmu tersebut  belum ada.

 

3. Proses pendirian kelompok Teater Kota Padang dan anggota-anggotanya yang pernah terlibat produksi hingga garapan terakhir pada tahun 1967

Saya diterima masuk Asdrafi  setelah tamat SMA Budaya Jogya tahun 1954. Di Asdrafi ini ada beberapa catatan tentang kegiatan Teater yang saya lakukan di Jogya dan dapat dilihat di Blog saya. Pada tahun ketiga (1956) saya pulang  libur ke Bukit Tinggi dan karena kawan-kawan saya dan guru-guru di Gajah Tongga Bukittinggi banyak yang mengenal saya yang sedang kuliah drama di Asdrafi maka dalam rangka ulang  tahun Gerakan Pemuda Sosialis (GPS), saya diminta mereka untuk menyutradarai 2 pagelaran Drama yang akan dipertunjukkan di Gedung Nasional Bukittinggi. Pertama Naskah “Awal dan Mira” dimana saya sendiri sebagai Sutradara merangkap memegang peran sebagai “Awal” dalam karya Utuy Tatang Sontani. Kedua menyutradarai Drama Minang Sabai Nan Aluih berdasar naskan Tulis St. Sati. Pemain-pemain yang saya sutradarai ketika itu: antara lain  Ratna Mahyar-Syafri Segeh dan Basri Segeh, dll.

Berturut-turut tiap tahun sesudah pagelaran pertama itu sampai runtuhnya Gedung Pancasila diterjang ombak, Teater Kota Padang menampilkan pertunjukan-pertunjukan drama dengan mengangkat naskah-naskah drama dunia terkenal, seperti: “Tanda Silang” oleh Eugene Oneil dan “Hanya Satu Kali” karya John Galworty. Pada acara Dies Natalis Unand tahun 1963. Teater Kota Padang juga pernah menampilkan Pagelaran Naskah: “Penghuni-penghuni Gua” yang penulisnya juga dari luar yang tidak ingat lagi namanya. Yang memegang peranan ketika itu selain saya juga diperani oleh Leon Agusta. Sedangkan Dekorasi ditangani oleh pelukis  Arby Samah. Latihan-latihan naskah ini juga disaksikan oleh budayawan Umar Qayam dari Jogja. Naskah “The Proposal” karya Anton Chekov saya adaptir kedalam “Kumidi Bagalau” dengan judul “Udin Pamalu” yang dipertunjukan dengan pelaku-pelaku Burhan Bur dan Lucian Idris serta saya jadi Udin Pamalu diadakan dibioskop Raya Padang.

 

4. Gejolak kehidupan sosial dan politik tahun 1960an yang mempengaruhi produktifitas saya dalam berkarya.

Di harian Res Publika kegiatan kebudayaan berada dibawah pimpinan Abdul Muis S. Bakry yang ketika itu memakai nama samaran Ananda Madah Mangau. Res Publika beraliran Nasionalis dibawah Pimpinan Kepala Japenprop Sumbar Bapak Daranin seorang tokoh PNI, karena itu koran Res Publika sering terlibat polemik dengan koran Panarangan terutama mengenai paham Humanisme Universal yang kami anut dengan paham Seni untuk rakyat yang sedang getol-getolnya dipaksakan oleh kelompok Komunis untuk dipakai oleh semua  seniman di Indonesia . Karena saya selain dikenal sebagai wartawan tapi juga dikenal sebagai Seniman, maka kepada saya diserahkan untuk membentuk kelompok Teater yang ketika itu kami berinama “Teater Kota Padang”. Abdul Muis S. Bakry yang  pada Jaman Gubernur Sumbar Dt Rangkayo Basa ikut duduk di DPRD mempunyai banyak relasi dan koneksi dikalangan pejabat di Padang. Pada waktu itu diruangan sastra dan Budaya Res Publika telah banyak  tampil seniman-seniman dan sastrawan-sastrawan muda dengan menulis, puisi-puisi dan, eseis-eseis budaya yang yang bertendes Anti Komunis seperti Mursal Esten – MS.Sukmajata – Chairul Harun, Rusli Marzuki Saria, Leon Agusta, dll. Mereka itu semua praktis menjadi pendukung pertama lahirnya “Teater Kota Padang”. Ketika Palang Merah Indonesia bulan Oktober tahun 61 akan mengadakan acara di Gedung Pancasila maka melalui Abdul Muis S Bakry mereka meminta Teater Kota Padang dapat menampilkan pertunjukan Drama. Kami memilih naskah “Penggali Intan” karya Kirjomulyo yang di Jogya sendiri sebelumnya sukses dipertunjukkan oleh kelompok teater W.S. Renda dengan menampilkan pelaku-pelaku: Kusno Sujarwadi, Iman Sutrisno dan M.Nizar. Nah Teater kota Padang  dengan pegelaran pertama ini, menampilkan pemain-pemain teater Mira Darjis, dan Syafril Zein dan pelaku wanita Nurjani Musa. Saya sendiri  pegang peran merangkap sutradara. Dekorasi dibuat oleh pelukis Mahyuddin. Ini adalah pagelaran pertama Teater Modern di kota Padang dan mungkin juga yang pertama mengangkat naskah-naskah. Drama yang ditulis oleh sasterawan-sasterawan yang terkenal jaman itu.

Sesuatu yang sangat berkesan dalam penciptaan karya drama saya ialah membuuat nakah “Bung Besar” yang dipagelarkan  dalam rangka memperingati HUT PWI bulan Februari 1966 di Aula Don Bosco Padang. Judul naskah ini saya ketahui kemudian juga telah dijadikan naskah drama sendiri oleh Misbach Yusa Biran di Jakarta. Naskahnya berbeda dengan yang saya buat, tetapi tema hampir sama yaitu parodi tentang kekuasaan Bung Karno. Drama saya ini para pelakunya didukung hampir semua oleh para seniman dan budayawan Padang (lihat Blog) dan dipertunjukkan ketika pengikut-pengikut Sukarno dan militer masih berkuasa. Saya ingat betul ketika itu kawan baik saya  Ridwan Isa fotografer terkenal di Padang, menyuruh saya melapisi perut dan dada dengan lempengan besi. Kuatir sedang main nanti ada tentara yang menembak saya dari jauh.

 

5. Kelompok seni yang lain yang turut menggelarkan karya teater pada waktu itu.

Setahu saya selain pertunjukan-pertunjukkan Randai yang juga  sangat populer serta sering diadakan dihalaman-halaman rumah  dikampung-kampung, maka di Bukittinggi juga sudah terkenal nama-nama seperti Bapak Rasyid Manggis dan DT. Nurdin Ya’kub yang pernah menyutradarai pertunjukan- pertunjukan Sandiwara, seperti Sandiwara Sabai Nan Aluih, dll yang pernah dipertunjukkan di Gedung Nasional Bukittinggi. Kemudian ada Kelompok SEMI (SENIMAN Muda Indonesia) dibawah pimpinan Alm. Zetka dan AA Navis pernah mempegelarkan Drama Modern “Bunga Rumah Makan” karya Utuy Tatang Sontani. Semua itu terjadi sebelum saya meneruskan sekolah ke Jogyakarta.

Kabarnya di Padang sesudah saya pindah juga telah berkembang kelompok-kelompok teater seperti Kelompok Teater Bumi yang dipimpin oleh Wisran Hadi dan ada kelompok-kelompok lain yang saya tidak ingat namanya.

 

6. Terbentuknya karya-karya Nasionalis.

Saya kembali dari Jakarta ke kota Padang setelah pulih masa PRRI tahun 1961 dan langsung bekerja di Harian Res Publika sebagai Redaktur. Ketika itu kelompok seniman  padang banyak tergabung di grup Kuntum Mekar yang dikelola oleh Harian Panarangan  dibawah Pimpinan Alm. Rasyidin Bey yang ternyata kemudian adalah seorang  aktivis komunis. Banyak kegiatan seniman termasuk juga kegiatan teater dan deklamasi sajak, waktu itu didominasi grup-grup Harian Panarangan ini.

 

7. Bapak Sri Martono pendiri ASDRAFI.

Sri Murtono adalah Direktor Asdrafi yang didirikan oleh Institut Kebudayaan Indonesia (IKI) Jogyakarta dibawah pimpinan Prof. Purbodiningrat. Jadi yang aktif mengajar ketika itu adalah Bapak Sri Murtono yang juga terkenal sebagai penulis naskah-naskah drama di Jogyakarta. Pada tahun-tahun pertama Asdrafi di Jogja itu, saya adalah termasuk mahasiswa senior dan yang kedua berasal dari Sumatera setelah S.A.Karim yang berasal dari Aceh. Lebih dahulu dari Kusno Sujarwadi, Hendra Cipta dan Iman Sutrisno. Karena itu saya selalu diberi peran-peran utama dalam naskah-naskah Sri Murtono yang dipagelarkan dalam berbagai kegiatan oleh Asdrafi. WS Rendra juga pernah ikut sebentar di Asdrafi,begitu juga Steve Lim yang kemudian terkenal dengan nama Teguh Karya juga pernah ikut sebentar di Asdrafi, tetapi kemudian pindah ke Jakarta karena telah dibukanya ATNI ( Akademi Teater  Nasional Indonesia) di Jakarta.

 

Inilah sekelumit yang masih saya ingat mengenai perjalanan dan pengalaman teater saya sampai kemudian tahun 1971 pindah ke Jakarta. Artikel ini merupakan jawaban dari pertanyaan saudara Saaduddin, pengajar Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Padang Panjang yang akan digunakan untuk penelitian.

 

NAZIF BASIR SEBAGAI PIMPINAN “SANGRINA BUNDA”

Sejak Tahun 1978 bersama isteri Elly Kasim memimpin Sanggar Tari Nasional Bunda yang dikenal dengan singkatan “Sangrina Bunda”. Sanggar ini sekaligus juga merupakan pusat Pendidikan dan Latihan tari-tari tradisi untuk anak-anak remaja dan dewasa di Jakarta Timur, pernah beranggotakan 200 orang. Selama masa 30 tahun lebih Sangrina Bunda dengan dukungan para pejabat serta institusi-institusi Pemerintah, seperti Departemen Luar Negeri, Departemen Budaya & Pariwisata, Dinas Kebudayaan DKI, BPEN, Dep Perdagangan, Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia dan Kedutaan-kedutaan RI di Luar Negeri, kami telah memimpin Misi Kesenian memperkenalkan keluhuran dan ke-agungan Budaya Indonesia melalui Musik dan Tari Tradisi sebanyak 45 kali perjalanan menjelajahi 118 kota di 35 negara yang tersebar dilima benua. Perjalanan misi-misi Muhibah tersebut tercatat sebagai berikut:

MISI KEBUDAYAAN “SANGRINA BUNDA” KE MANCA NEGARA

1 9 7 8   –  2 0 08

NO.

BULAN/TAHUN

KOTA/NEGARA/SPONSOR

1

Februari 1979

Pertunjukan di 6 Negara Bagian Malaysia Barat atas undangan dan sponsor Kementerian  Budaya, Belia dan Sukan –  Malaysia.

2

 

September 1979

Pertunjukan di Comptoir Swiss di Lausane-Dikirimkan oleh Direktorat Kebudayaan dan Pariwisata.RI

3

Desember 1979

Tampil di Teater Nasional Bangkok Thailand-atas undangan KBRI dengan kerjasama Palang Merah Internasional

4

Maret 1980

Pertunjukan keliling pada 4 Hotel Hilton di: Abu Dhabi-Dubai-Al Ain dan Sarjah (Emirate Arab) – atas sponsor Management Hilton Hotel Internasional.

5

Juni 1980

Sponsor yang sama mengirimkan ke tiga Hotel Hilton di Australia ,yaitu dikota-kota : Perth-Melbourne dan Sydney.

6

Juli 1980

Ikut dalam rombongan anggota-anggota DPR-RI sebagai Grup Kesenian untuk tampil di Pusat Kebudayaan Pilipina di Manila.

7

Februari 1981

Penampilan kedua di Abu Dhabi dan Dubai atas sponsor KBRI dengan kerjasama Hotel Meridien

8

Oktober 1981

Tampil 3 kali pertunjukan di Helsinki Finlandia dan diteruskan  dengan penampilan di  Stocholm (Swedia) – Brusel – Kenn-Lamur (Belgia) – Hague dan Amsterdam di Negeri Belanda. Masing-masing atas sponsor dan undangan KBRI-KBRI kita.

9

Juli 1982

Tampil dalam program “Indonesian Night” di Ming Court Hotel Singapur atas sponsor KBRI kita.

10

April 1983

Ikut tampil pada “ Warana Festival) di Brisbane-Australia atas penunjukan Dirjen Pariwisata R.I

11

Maret 1984

Sekneg mengirimkan untuk tampil sebagai Misi Kesenian Indonesia dalam rangka perayaan hari kemerdekaan Brunei di Bandar Sri Bagawan.

12

Juni 1987

Dinas Kebudayaan DKI mengirimkan untuk mengadakan pertunjukan keliling ke Roma (Italia)-Tunis (Tunisia ) – Marakesh-Rabat dan Casablanca (Maroko). Dilanjutkan atas undangan KBRI ke London (Inggeris), Amsterdam (Belanda)  di kota Mainz dan Mannheim (Jerman Barat)

13

Desember 1988

Terpilih untuk mewakili Indonesia bersama Misi dari 12 negara lain di Asia untuk tampil pada “Asia Fest 88” di Miami-Florida ( Amerika Serikat ).Pilihan dilakukan langsung oleh Presiden Asia Fest 88 Mr.Burton yang sengaja  datang langsung ke Jakarta dan Bali.

14

September 1989

Tampil dalam Festival Kesenian Rakyat sedunia yang diadakan di kota Krems dan Wina ( Austria) atas undangan IOFA (International Organisation for Folk Art).Dilanjutkan dengan pertunjukan ke Bratislava dan Piestani (Chekoslowakia)- ke kota Krakov,Lods dan Warsawa (Polandia).Kemudian ke Bern dan Geneva (Swiss). Masing-masing atasan undangan KBRI setempat.

15

 

 

 

 

 

Agustus 1990

Ikut mengambil bagian dalam Festival Kesenian Rakyat (Inconteri Internazionalli di Folklore E Speltoco) di kota Pavullo dan Bulogna (Itali).  Dilanjutkan dengan pertunjukan dikota-kota: Bonn-Koln-Munchen dan Dusseldorf (Jerman Barat)-Bern (Swiss) dan London (Inggeris) – Masing-masing atas undangan KBRI setempat.

16

Agustus 1990

Sebagian penari-penari Sangrina lagi tampil pada acara “Indonesia Night” dalam rangka perayaan 17 Agustus yang diadakan  oleh KBRI kita dikota Ho Chi Min City (Vietnam)

17

Maret 1991

Tampil  dalam sepekan pertunjukan di The La Rinacente Departemen Store yang berada dikota Roma dan Milan (Itali) dalam rangka promosi produk2 Indonesia yang disponsori oleh Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Departemen Perdagangan R.I.

18

Juni 1991

Tampil mewakili Indonesia di “Asean Folklor Festival” yang diadakan di kota-kota Fusan dan Seoul ( Korea Selatan) dikirimkan oleh Pemerintah R.I

19

 

 

 

 

 

 

Mai 1992

Sponsor  Garuda Indonesia membawa dalam rangka Persemian Pembukaan Penerbangan Garuda jalur Medan-Munchen.Dilanjutkan dengan pertunjukan keliling dikota-kota : Rotherburg-Passau-Asschanfenburg-Lohr-Wurzburg-Veitshocheim-Bonn-Essen-Bremen-Hamburg-Bad Hersfeld-dan Augsburg  di Jerman atas undangan KBRI kita.

20

Juni 1992

Tampil 7 malam pertunjukan di “Archipelago Fair”dikota Utrech (Belanda) atas undangan panitya setempat.

21

 

 

Agustus  1992

Tampil pada acara “Indonesian Night” di Grand Ballroom Imperial Hotel Tokio ( Jepang) atas undangan KBRI setempat.

22

Mai 1993

Garuda Indonesia membawa lagi ke Madrid-Spanyol untuk tampil pada Resepsi Inaugral Flight Garuda to Spain.Dilanjutkan dengan tiga pertunjukan di kota2 Frankfurt-Heidelberg dan Bonn (Jerman) atas undangan KBRI setempat.

23

Agustus 1993

Pertunjukan tetap selama 2 minggu di Paviliun Indonesia pada EXPO 93 di Taejon (Korea Selatan) Dikirimkan oleh BPEN –Deperdag RI.

24

Maret 1994

Lima Hari pertunjukan pada “ International Turismus Borce” (ITB) di Berlin –Sponsor Pemda Sumbar.Dilanjutkan  penampilan di Hamburg-Kiel-dan Munchengladbach (Jerman) undangan KBRI setempat.

25

 

Juli 1994

Pertunjukan di Boines Aires dan  pada tiga kota ditiga Propinsi di Argentina , dilanjutkan ke Paraguay dan Brazil-Atas undangan KBRI setempat.

26

Nopember 1994

Pertunjukan di London dan Manchester (Inggeris) lalu ke Brusell (Belgi) ke Eindhoven dan Roterdam (Belanda) atas undangan KBRI setempat.

27

Februari 1995

Dirjenpar RI mengirmkan ke Milan ( Itali) dan dilanjutkan ke Paris (Perancis) atas undangan KBRI setempat.

28

April 1995

Dinas Kebudayaan DKI mengirimkan untuk tampil pada Acara “Opportunity Indonesia 95” di Paris Perancis.

29

Mai 1995

Penampilan kedua di Buines Aires Argentina atas undangan KBRI setempat.

30

Agustus 1995

Penampilan dalam rangka 50 tahun kemerdekaan RI di London dan dilanjutkan lagi pada tiga kota di Jerman yaitu : Karlsruche,Hamburg dan Bonn (Jerman) atas undangan KBRI setempat.

31

September 1995

Mewakili Jakarta dalam penampilan-penampilan pada acara “ Indonesian Opportunity ‘95” dikota-kota New York-Chicago-dan Los Angeles (Amerika).Sponsor Dinas Kebudayaan DKI.

32

Maret 1996

Tampil dikota Kairo dan Tanta (Mesir) dilanjutkan ke Jedah  atas undangan KBRI setempat.

33

Januari 1997

Tampil kedua kalinya di Mesir atas undangan KBRI dalam rangka 50 tahun hubungan diplomatic antara RI dan Republick of Egipt.Pertunjukan diadakan dikota-kota: Alexandria-Tanta dan Cairo.

34

Agustus 1997

Pertunjukan dalam rangka peringatan 52 tahun Kemerdekaan RI di Los Angeles-San Fransisco dan Chicago-atas undangan KBRI setempat.

35

April 2000

Tampil di kota-kota Washington DC-Boston-Indianapolis-San Fransico dan Los Angeles (USA) atas kordinasi Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia Amerika Serikat) dan KBRI setempat.

36

Maret 2001

Ikut tampil pada “Multicultural Festival” di Canberra dilanjutkan kekota-kota Sydney-Melbourne ( Australia),atas undangan Panitia Festival dengan kerjasama KBRI setempat.

37

Nopember 2001

5 malam pertunjukan di Istana Budaya Kuala Lumpur atas sponsor Alm.Datuk Hakim Tantawi dengan kerjasama Pemerintah Malaysia.

38

Agus/Sept.  2002

Tampil pada ajang Festival Rencontres de Folklore Internationales di Fribourg –Swiss atas undangan panitia,dan dilanjutkan dengan pertunjukan di Paris dan Aniane (Perancis) atas undangan KBRI setempat.

39

Mai 2003

Tampil pada acara” Canadian Art Festival” di Ottawa dan Montreal – atas undangan KBRI setempat dalam rangka peringatan 50 tahun hubungan diplomatic antara RI dan  pemerintah Kanada.

40

Juli-Agustus 2003

Ikut mengambil bagian dalam dua Festival kesenian rakyat yang diadakan dikepulauan Canary.Pertama Festiva ke “VIII Mustra Solidaria de Los Puiblos” yang diadakan di Kota Ingenio –Kepulauan Canary-.Kedua mengikuti  “X Festival Nacional de Folklore Isla di kota Arona kepulauan Tenerife yang juga berada , digugusan kepulauan Grand Canaria.Undangan panitya dengan kerjasama KBRI Spanyol.

41

Jan-Februari 2004

Tampil pada acara ke 24 FITUR (  Festival Folklorico de Los Pueblos  ) yang diadakan di Madrid dan dilanjutkan dengan pertunjukan kekota-kota Burgos,Galapagar dan Salamanca-Spanyol.Atas undangan  panitia dan kerjasama KBRI setempat.

42

September 2004

Mengisi acara pada “Indonesia Ultimate In Diversity” di Barcelona –Spanyol. Atas sponsor Dep.Perdagangan dan Depparbud RI). Dilanjutkan dengan pertunjukan kekota-kota Roma (Itali) dan Wina (Austria).Atas undangan KBRI setempat.

43

September  2005

Tampil dalam pertunjukan seminggu di “Indonesian Expo” yang diadakan Deperdag RI di Sarjah. Dilanjutkan dengan penampilan di  Teater Pusat kebudayaan Abu Dhabi (Emirate Arab).

44

September 2005

Ikut tampil dalam “The IV Silk Road Festival “ yang diadakan di Damascus dan kota Aleppo (Syria). Undangan Panitya dengan kerjasama KBRI setempat.

45

Mai 2008

Dalam rangka Visit Indonesia 2008, dikirimkan oleh Pemerintah RI untuk mengadakan pertunjukan ditiga Negara di Eropa,Yaitu dikota Warsawa (Polandia) di Paris-Orleone (Perancis) dan dikota Praha dan Chezky Budejovice (Republik Cheko).

Sumber: Buku “30 tahun Sangrina Bunda 1978-2008”

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Nazif Basir sebagai Pengarang

KEGIATAN SEBAGAI PENGARANG

Kegiatan karang mengarang telah dimulai sejak sekolah di Jogjakarta tahun 1953. Diawali dengan menulis cerita-cerita pendek yang dimuat oleh Majalah Minggu Pagi, Majalah Wanita, Majalah Bikini terbitan Jogjakarta, Majalah Cermin terbitan Surabaya, Majalah Waktu terbitan Medan, Majalah Lukisan Dunia (Parada Harahap) dan Majalah Aneka Terbitan Jakarta.

BUKU-BUKU YANG PERNAH DIKARANG

Setelah Pulang ke Padang pada tahun-tahun 60-an CV Genta Padang menerbitkan buku “Tersapa di Rimba Panti” berdasarkan Cerita Bersambung yang dimuat di Harian Res Republika. Penerbit yang sama juga pernah menerbitkan buku kecil cerita-cerita sketsa Humor yang diberi judul “Kaba Bagalau”. Kemudian beberapa bulan setelah terjadinya tragedi Nasional Gestapu melakukan pembunuhan terhadap Jendral-jendral Angkatan Darat, dengan kerjasama Kodam III, percetakan Sri Darma Padang menerbitkan Buku “Tujuh Pahlawan Revolusi” yang terdiri dari 2 jilid. Semuanya disusun berdasarkan bahan-bahan dari Dokumentasi Kodam III dan kliping-kliping Koran.

Tahun 1968 sampai dengan 1971 menjadi pelopor menulis cerita-cerita Silat Minang di Harian Singgalang. Salah satu yang melegenda ialah Cerlatbung (Cerita Silat Bersambung) “Palimo Alang Bangkeh” dan “Sapik Kalo Sigalapuang”.

Setelah kembali berdomisili di Jakarta menerbitkan buku-buku:

1. Buku “Sangrina Bunda, Indonesian Folk Dance and Music Company) dalam bahasa Inggris pada tahun 1994.

2. “Siapa Mengapa sejumlah Orang Minang” – Bersama Ed Zulverdi dan Yunisaf Anwar diterbitkan oleh BK3AM (Badan Kordinasi Kemasyarakatan dan Kebudayaan Alam Minangkabau – Jakarta) pada tahun 1995.

3. “Tata Cara Perkawinan Adat Minangkabau” – Dengan Isteri Elly Kasim diterbitkan oleh Elly Kasim Collection (EKC) pada tahun 1997.

4. Buku “Malin Kundang dan Naskah-naskah Operet lainnya” – Diterbitakan oleh Yayasan Indonesia dan dilundurkan tepat pada HUT ke 70 thn pada tahun 2004.

5. Buku “Yusaf Rahman – Komponis Minang” – Diterbitkan oleh Penerbit “Lubuk Agung” Bandung pada tahun 2007.

6. Buku “30 Tahun Sangrina Bunda” – Diterbitkan oleh Sangrina Bunda pada tahun 2008.

7. “Tersapa di Rimba Panti” diterbitkan oleh CV. Genta Padang tahun 1969.

8. Cerita Silat bersambung “Pandeka Kalalaso” pernah dibuat di majalah Aneka Minang Jakarta dan Harian Singgalang Padang.

9. Buku “In Memoriam, 100 Seniman, Wartawan dan Budayawan Sumatera Barat” yang diterbitkan oleh penerbit Horison tahun 2017.

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Nazif Basir sebagai MC

Telah dimulai sejak tahun 1962 baik untuk acara-acara Resmi Pemerintah, maupun untuk acara-acara Show Artis di gedung-gedung dan dilapangan-lapangan terbuka seluruh Sumatra sampai ke Malaysia.

Selama Press Tour Keliling Jawa 1964, juga didaulat oleh wartawan-wartawan se Indonesia untuk jadi pembawa acara untuk setiap Malam Hiburan yang diadakan diberbagai kota.

Tagged , , , , , , ,

Nazif Basir sebagai Wartawan (1959-1975)

1959 – Redaktur Mingguan Fakta – Jakarta

1960 – Pers Publicity Puspenad – MBAD – Jakarta

1961 – Wartawan/Redaktur Harian RES REPUBLIKA – Padang

1966 – Dari Agustus 1965 s/d Awal Januari 1966 – Pemred Harian Res Republika

1966 – Dari Februari 1966 menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Harian DUTA PANCASILA

1966 – Sampai akhir September 1966 menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Harian DWIKORA Edisi Padang

1967 – Pemred Bulanan Genta dan Redaktur Harian MERCUSUAR

1968 – Menjadi Pendiri dan Wakil Pemimpin Redaksi Mingguan SINGGALANG – Padang sampai tahun 1971

1972 – Pemimpin Redaksi Majalah “Aneka Minang”- Jakarta sampai 1973

1973 – 1975 – Pemimipin Redaksi Majalah “Varia Minang” – Jakarta

Tugas pertama sebagai wartawan keluar daerah mengcover berita Penyerahan Resmi IRIAN BARAT dari UNTEA kepada RI, bulan Mei 1963 di KOTA BARU – IRIAN JAYA. Satu-satunya wartawan terpilih dari 3 harian yang ada di Kota Padang. Ini juga tercatat sebagai pengalaman pertama naik Pesawat Terbang.

Memangku seorang anak Irian dipinggir Danau Sentani, menulis laporan bersambung di Res Republika dengan judul “Tantabene Teku”

 

PRESS TOUR KELILING JAWA

Nopember s/d Desember 1964

Bersama 40 Wartawan dari seluruh Indonesia meninjau proyek-proyek MPRS dari Jakarta – Cilegon – Telaga Bodas – Bandung – Kulon Progo – Cilacap – Semarang – Banyuwangi – Surabaya – Gresik – Pasuruan

Mengkoordinir wartawan-wartawan Padang untuk mau berdasi dan baris berbaris dalam Pawai, pada PERAYAAN ULANG TAHUN KODAM III/17 AGUSTUS tanggal 17 APril 1966 di Lapangan IMAM BONJOL – PADANG.

Bersama wartawan-wartawan Padang lainnya mengikuti LATIHAN-LATIHAN KEMILITERAN Di Padang Besi, waktu itu dalam rangka Kewaspadaan Nasional mengunggu Komando Dwikora bulan Juni 1965.

 

Sewaktu menjadi pendiri dan wartawan Singgalang Padang tahun 1968.

 

IMG-20150501-WA0000

Tagged , , , , , , , , , , , , , ,

Kegiatan Teater Nazif Basir di Tahun 55 s/d 66

DRAMA I BABAK: “KONVOI PENGHABISAN DARI JOGYA”

Bersama Lies Permana Ningsih dalam Drama 1 Babak: “Konvoi Penghabisan dari Jogya”. Dipentaskan di Gedung Negara Jogjakarta pada tanggal 17 Agustus 1955.

Karya: Sri Murtono

DRAMA III BABAK: “TIDURLAH ANAKKU”

Bersama Asnah Naini Resang dalam Drama III Babak: “Tidurlah Anakku”. Dipentaskan di Aula ASDRAFI – Sompilan Ngasem Jogjakarta pada tanggal 1 Nopember 1955.

Karya: Sri Murtono

Pelaku-pelaku lainnya: Bagyo Suroso – Pipik Soepati – Poppy Kerstini

TEATER ARENA: “KISAH DALAM STUDIO”

Sebagai Pelukis dalam Teater Arena: “Kisah Dalam Studio”.

Bersama:

Rismarini – Iman Sutrisno – Bagyo Suroso

Dipentaskan dalam Rangka Dies Natalis Asri ke IV di Pendopo Kepatihan Jogyakarta

PENAMPILAN LAIN DI JOGYAKARTA

dari tahun 1954 s/d tahun 1957:

– Sebagai RA BANYAK dalam Drama Terbuka “SUMPAH GAJAH MADA” (1954)

– Sebagai ORANG LEWAT dalam Drama “PAGAR AYU” (1954)

– Sebagai GEROMBOLAN dalam Film “MERAPI” Produksi P.F.N (1955)

– Sebagai FIGURAN dalam Film “LE GRANDE MURAGLIA” Produksi Italia (1955)

– Sebagai SUTRADARA untuk Drama Klasik “ARJUNA WIWAHA” (1956)

– Sebagai AWAL dalam Drama Sebabak “AWAL & MIRA”  (1956)

– Sebagai SUTRADARA untuk Drama Klasik “MIDSUMMER NIGHT DREAM” Shakespeare (1957)

TEATER KOTA PADANG: “PENGGALI INTAN”

Bersama Mira Dardjis – Syafril Zein – Nurdjani Musa dalam Produksi Pertama Teater Kota Padang “Penggali Intan”. Dipentaskan dalam Rangka Bulan Dana PMI pada tanggal 17 Oktober 1961 di Wisma Pancasila – Padang.

Karya: Kirdjomulyo

8 PRODUKSI “TEATER KOTA PADANG”

dari Tahun 1961 s/d 1967:

1. 1961 – “Penggali Intan”

2. 1962 – “Tanda Silang”

3. 1963 – “Hanya 1 Kali”

4. 1964 – “Malin Kundang”

5. 1965 – “Arjuna Trikora” & “Penagih Hutang”

6. 1966 – “Bunga Api Revolusi”

7. 1967 – “Bung Besar”

TEATER: “BUNG BESAR”

     

Sebagai “Bung Besar” dalam karya sendiri, bersama:

Burnelis – Nasrul Siddik – Leon Agusta – Chairul Harun

Rusli Masrzuki Saria – Mursal Esten – Ridwan Isa – Syafri Segeh

Anas Kasim – Mira Dardjis – Jusni Suleiman – Oyon A.M.

Dipentaskan dalam Rangka HUT ke XXI PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PWI) Cabang Padang pada tanggal 26 & 27 Pebruari 1967 di Aula Don Bosco – Padang.

“KUMIDI BAGALAU”

Sebagai Udin Pamalu bersama Lucian Idris dalam “Kumidi Bagalau” adaptasi naskah “Pinangan” Karya Anton Chekov di Bioskop Raya Padang – Agustus 1966.

Karya-karya OPERET juga dimulai tahun ini dengan Otto Chen.

Antara lain:

1. 1965 – Operet “Nelayan”

2. 1966 – Operet “Setan-Setan Lubang Buaya”

3. 1967 – Operet “Tiko-Tiko (Molimo)”

4. 1968 – “Sendratari “Imam Bonjol”

 

KARYA-KARYA OPERET NAZIF BASIR

 

1. Sendratari “Nelayan” (1966)

Dipertunjukkan dalam rangka Hari Tani dan Nelayan di Don Bosco Padang.

Penata Musik: Otto Chan – Penata Tari: Cap Nurdin

 

2. Sendratari “Setan-Setan Lubang Buaya” (1967)

Dipertunjukkan dalam rangka Dies Natalis Universitas Andalas Padang di  Aula Don Bosco.

Penata Musik: Otto Chan – Penata Tari: Emmy DBS

 

3. Sendratari “Molimo” (Tico-Tico) (1968)

Dipertunjukkan dalam rangka hari Angkatan Kepolisian 1 Juli di Aula Don Bosco Padang.

Penata Musik: Otto Chan – Penata Tari: Lucian Idris

 

4. Sendratari “Imam Bonjol” (1969)

Dipertunjukkan dalam rangka HUT Kodam III 17 Agustus di Lapangan Imam Bonjol – Padang.

Penata Musik: Yusaf Rahman – Penata Tari: Lucian Idris

 

5. Operet “Memoria Oslan Hosein” (1972)

Dipertunjukkan di Istora Senayan Jakarta dalam rangka mengenang wafatnya Oslan Hosein.

Penata Musik: Nuskan Syarief – Penata Tari: Erisman Bahar

 

6. Operet “Baralek Gadang” (1977)

Ditayangkan  di TVRI dan dipertunjukkan di Ball Room Hotel Indonesia Jakarta dalam rangka Malam Dana Yayasan Pembina Pembangunan Sumatra Barat (YP2SB).

Penata Musik: Yusaf Rahman & Suryaman– Penata Tari: Risman Bahar.

 

7. Operet “Bancah Sunuah” (1978)

Dibuat untuk acara TVRI dengan pengambilan gambar di Pandai Sikek dan Payakumbuh

Penata Musik: Nuskan Syarif

 

8. Operet “Manikam Jajak” (1979)

Dipertunjukkan di Istora Senayan Jakarta oleh BKAM dalam rangka peringatan “Pejuang-pejuang Kemerdekaan di Sumatra Barat”.

Penata Musik: Nuskan Syarif

 

9. Operet “Bapisah Bukan Bacarai” (1979)

Dipertunjukkan dalam rangka perpisahaan dengan Gubernur Harun Zain dan perkenalan Gubernur Sumbar yang baru Azwar Anas di Gedung Wanita Kuningan.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

10. Operet “Galodo” (1979)

Dipertunjukkan  di Ball Room Hotel Hilton Jakarta oleh Yayasan Bunda dalam rangka mengumpulkan dana untuk membantu korban Galodo Merapi di Sumatra Barat.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

11. Operet “Maharak Anak Panceu” (1980)

Dipertunjukkan di Istora Senayan dalam rangka Malam “Sulit Air Sepakat (SAS)” Jakarta

 

12. Operet “Fatimah-Ila Nurul Falah” (1981)

Dipertunjukkan di Balai Sidang Jakarta, dalam rangka pertunjukkan amal gabungan pengajian Ibu-ibu se-DKI “Araudah” Pimp. Ibu Hj. D. Coenraad Satjakusumah.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Andi Tiar

 

13. Operet “Membangun Nagari” (1982)

Dipertunjukkan di Istora Senayan Jakarta dalam rangka Halal Bil Halal Masyarakat Minang DKI.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Zamri

 

14. Konsep untuk Tari Massal “MTQ XIII” (1983)

Dipertunjukkan di Lapangan H. Agus Salim Padang pada Opening Ceremony MTQ Nasional ke 13 dengan durasi 30 menit.

Penata Musik: Yusaf Rahman & Nuskan Syarif – Penata Tari: Deddy Luthan, Tom Ibnur, Gusmiati Suid & Sofyani Yusaf

 

15. Opera Randai “Cindua Mato” (1983)

Dipertunjukkan di Aula FKIP Padang, dalam rangka Malam Pembukaan Pekan Budaya I, Sumatera Barat.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

16. Operet “Batagak Penghulu” (1984)

Dipertunjukkan oleh Yayasan Bunda dalam rangka Malam “Puspa Ragam Andalas” di Flores Room Hotel Borobudur Jakarta dengan kerja sama Guruh Soekarno Putra

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

17. Operet “Derap Pembangunan” (1985)

Dipertunjukkan di Istora Senayan Jakarta, dalam rangka HUT GOLKAR.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

18. Operet “Malam Bainai” (1985)

Dipertunjukkan dengan kerjasama Lingkar Mitra Budaya dan Yayasan Bunda di Ball Room Hotel Indonesia.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Zamri

 

19. Operet “Rajo Palagak” (1986)

Dipertunjukkan di Graha Bakti Budaya TIM dalam rangka Sewindu Sangrina Bunda.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

20. Operet “Harimau Nan Salapan” (1986)

Dipertunjukkan oleh Bakor Agam dalam rangka Pekan Budaya dan Wisata Minangkabau di Istora Senayan Jakarta.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

21. Operet “Sabai Nan Aluih” (1987)

Dipertunjukkan oleh Pengurus Dharma Wanita Pusat di Balai Sidang Jakarta dalam rangka Peringatan Hari Ibu.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

22. Operet “Manjapuik Marapulai” (1988)

Dipertunjukkan di kediaman Duta Besar Amerika Serikat (Mr. Paul Wolfowitz)  dalam rangka Intercultural Program AFS dengan Bina Antar Budaya Jakarta.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Ir. Firmansyah dan Risman Bahar

 

23. Operet “Pucuak Aru” (1988)

Dipertunjukkan di Graha Bhakti Budaya TIM dalam rangka HUT ke X Sangrina Bunda.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

24. Operet “Bumi Dipijak, Langik Dijunjuang” (1989)

Dipertunjukkan dalam Halal Bil Halal Masyarakat Minang DKI Jakarta di Istora Senayan.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

25. Konsep tari Masal “Derap Kemakmuran” (1990)

Untuk upacara pembukaan Pekan Raya Jakarta 1990 dengan Sponsor PEMDA Sumbar.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

26. Drama Tari “Tuanku Imam Bonjol” (1990)

Dipertunjukkan di Balai Sidang Jakarta, dalam rangka 125 tahun wafatnya Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

27. Konsep Tari “Nuansa Sumatra ” (1991)

Dipertunjukkan pada pembukaan PATA Mart 1991 atas pertunjukkan Dirjen Par Yoop Ave di Balai Sidang Jakarta.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

28. “Minal Aidina Operetta” (1992)

Untuk acara Idul Fitri TVRI dengan kerjasama Titiek Puspa.

 

29. Konsep Tari “Asean Night” (1992)

Dipertunjukkan dalam rangka Launching “Visit Asean Year 1992” di Puri Agung Hotel Sahid Jaya, Jakarta. Sponsor: Direktorat Jendral Pariwisata R.I.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

30. Operet “Silau Kemilau Minangkabau” (1992)

Dipertunjukkan dalam rangka HUT Taman Mini di Sasono Langen Budoyo.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

31. Operet “Hablum Minallah, Hablum Minannasy..” (1993)

Dipertunjukkan dalam rangka Halal Bil Halal Ibu-ibu Dharma Wanita Pusat di Sasono Langen Budoyo – Taman Mini Indonesia Indah.

Penata Musik: Sepmuhar Suar – Penata Tari: Tom Ibnur

 

32. Konsep Tari “Kedip Bintang dari Timur” (1994)

Untuk pembukaan Pameran Produk Ekspor ke 9 (PPE 94) di Arena Pekan Raya Jakarta. Sponsor Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN).

Penata Musik: (?) – Penata Tari: Wiwick Sipala

 

33. Operet “7 Bidadari (Malin Deman)” (1994)

Dipertunjukkan oleh Yayasan Gebu Minang Jakarta di Ball Room Hotel Shangri-la.

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

34. Opera “Malin Kundang” (1994)

Ditayangkan di RCTI dalam rangka HUT ke V RCTI.

Penata Musik: Elfa Secioria – Penata Tari: Tom Ibnur

 

35. Operet “Manikam Jejak, di Jalur Perak” (1996)

Dipertunjukkan dalam rangka Ulang Tahun ke 25 Yayasan Bunda di Jakarta Convention Center (Assembly Hall JCC).

Penata Musik: Nuskan Syarif – Penata Tari: Tom Ibnur

 

36. Drama tari “Legenda Minangkabau” (1996)

Dipertunjukkan di Jakarta Convention Center (JCC) dalam rangka Malam Tasyakuran 25 Tahun Yayasan Bunda.

Penata Musik: Elfa Secioria – Penata Tari: Tom Ibnur

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,